Cari Blog Ini

Halaman

Senin, 12 Januari 2026

Menamatkan Sore di Jepara Beach

 


Pantai dan sampah adalah dua hal yang menurut saya tidak sesuai jika disandingkan. Dua hal ini tidak seharusnya berada di dekat satu sama lain, apalagi jika mereka saling menyayangi. Jika digabungkan, keduanya akan terlihat seperti kue tart yang dilalerin, atau telur ceplok yang dipenuhi semut. Saya pikir saya harus menulis tentang hal ini. sebuah kekesalan yang disebabkan oleh kasih sayang. Saya ingin menghabiskan akhir tahun dengan menikmati pemandangan pantai Jepara beberapa minggu lalu. Saya menemukan pantai yang kurang bersih, sayangnya. Rasanya sulit untuk menemukan tempat yang baik, indah, artistik, dan bebas sampah.

Bukan, ini bukan tentang pantai Bandengan atau Kartini yang sering dielu-elukan wisatawan. Ini tentang keinginan untuk mencari pantai lain. Sebuah pantai yang belum begitu populer sebelum menjadi viral. Pantai lebih jarang dipilih atau dilirik. Pantai yang disebut sebagai "pemandangan senja"

Siapa yang akan mencoba, dan siapa yang tidak ingin menghabiskan tahun di tempat seperti itu?

Pantai Teluk Awur dengan Pemandangan Sore
Kami tiba di pantai pertama, Pantai Teluk Awur, setelah waktu berlalu. Jepara memang memiliki banyak pantai. Saking banyaknya, saya percaya bahwa kota ini seharusnya juga disebut kota pantai daripada kota ukir.
Ya, pada akhirnya, kami hanya memilih menggunakan Google untuk foto.

Saya tiba di gerbang Pantai Teluk Awur pada pukul 17.16. Saat yang tepat untuk mengejar sunset. Selain itu, benar bahwa warna biru di langit mulai menghilang dan diganti oleh jingga yang mulai terlihat gugup. Ini menunjukkan bahwa pantai ini tidak setenang yang digambarkan oleh Google. Banyak orang memilih untuk menghabiskan sore mereka di sana.

Sayang, di dekat papan nama mereka ada tumpukan sampah. Maksud saya, ya, alasan mengapa dia harus berada di sana? Papan nama dan tempat lain di depan harus selalu diingat karena semua orang membawa ponsel mereka untuk mengabadikan momen. Namun, ya sudahlah.


Saya pergi ke Barat—tapi bukan untuk mengambil kitab suci—dan mencoba mendapatkan warna langit jingga. Warung-warung makan memberi Anda kesempatan untuk minum kelapa sembari duduk lesehan dengan pemandangan laut. Keluarga dan remaja memenuhi tempat terbaik mereka.




Kami terus berjalan, mencari tempat terbaik untuk mengambil gambar. Memang sulit, karena bibir pantai Teluk Awur tidak begitu bersih. Kami menemukan potongan ranting dan bungkus kemasan, yang membuatnya tidak sempurna.

Hilanglah sudah keinginan untuk membuat video yang menarik sembari berjalan di tepi pantai seperti lagu Caffein.

Berjalan di tepi pantai dengan angin yang berhembus, menyejukkan, damai, dan menikmati pemandangan biru....

Tau lagunya, kan? Lagu ini pernah jadi jadi lagu kebangsaan anak-anak milenial pada eranya. Tapi rupanya, kenyataan tak seindah lagu.

Sunset di Teluk Awur masih indah, meski lautnya tak begitu biru plus sampah di sepanjang bibirnya. Kami memilih berdiri dibanding duduk di salah satu lesehan. Saya pikir bisa saja ini menjadi sunset pertama sekaligus terakhir yang saya lihat di 2025. Dan sunset itu muncul. Sebuah pemandangan alam yang tak perlu didapat dengan pergi ke luar negeri. Cukup dengan merapat ke daerah pesisir utara pulau Jawa.


Sebuah pemandangan yang membuat saya bersyukur atas kesulitan perjalanan di tahun 2025. Keindahannya seolah menginspirasi saya untuk mengakhiri tahun 2025 dengan indah dan menyambut tahun 2026 dengan optimis.

Cerita belum berakhir.

Pantai Prawean.

Pantai-pantai lain masih menarik perhatian saya. Di hari berikutnya, saya kembali ke pantai, tetapi kali ini saya memilih pantai Prawean, yang lebih asing. Nama yang sulit diingat karena terpeleset dengan kata "Perawan". Lokasinya dekat dengan Pantai Bandengan yang terkenal. Saya berharap pantai ini tetap bersih, seperti perawan yang kesepian atau tidak terlalu ramai. Saya disambut oleh kapal penumpang yang parkir di pinggir pantai saat saya tiba. Di dekat kapal-kapal itu ada gambar ikan bandeng raksasa.



Saya tampaknya salah; sejumlah besar orang juga mengunjungi pantai ini.

Pantai ini tidak terlihat biru sama sekali. Pasirnya tidak begitu bersih; ada ranting dan sisa bungkus makanan. meskipun begitu anak-anak tampaknya menyukainya Mereka tetap riang bermain air. Tidak peduli seberapa keruh airnya atau seberapa lelah tumpukan bekas Pop Mie setelah menghadapi air laut dan pasir pantai, orang-orang ini benar-benar menikmati keadaan.


Saya menyantap Pop Mie saat duduk di salah satu lesehan. Sepertinya tempat duduk kami sedikit lebih tinggi, jadi sampah-sampah itu tidak terlihat. Orang-orang harus santai dan menikmati suasana tanpa terganggu, sepertinya semua baik-baik saja. Sebenarnya, pantai ini dibersihkan. Tidak jauh dari tempat saya duduk, saya melihat seorang pria membersihkan sampah di area kedainya. Namun, arus terus mengangkut sampah ranting. Selain itu, sampah makanan yang entah ke mana hanyut.


Pantai ini memiliki banyak ayunan di pinggirnya, yang membuatnya menarik. Salah satu tempat terbaik untuk mengambil foto terepik adalah ini. Mungkin ada beberapa lokasi yang tidak memadai, apakah itu karena bibir pantai yang tidak bersih atau warna air yang tidak menarik. Saya sangat senang menemukan ayunan ini. Saya setidaknya dapat kembali ke rumah dengan video yang menarik untuk dipromosikan di sosial media.


Ya, saya tidak dapat mengharapkan banyak dari pantai dengan harga tiket murah. Saya pasti harus masuk ke salah satu resort mahal jika saya ingin tempat yang lebih tenang, bersih, dan eksotis. Namun, jika pantai yang tersedia dengan tiket murah benar-benar bersih, itu akan menjadi keuntungan tambahan untuk menarik wisatawan.

Restoran untuk Makan Malam di Pantai Marina

Pantai Marina terletak di dekat pantai Prawean. Ternyata tiket masuk ke Pantai Marina sudah termasuk dalam harga yang saya bayar sebelumnya. Saya sampai di sana ketika matahari hampir tenggelam sempurna. Itu tidak jauh. Tidak perlu lima menit atau rute yang berkelok-kelok. Kami tampaknya tiba di tempat yang tepat. Ketika malam tiba, tempat ini terlihat lebih indah. Pantai Marina biasanya penuh dengan kedai kopi yang disukai oleh remaja, berbeda dengan Pantai Prawean yang lebih menyenangkan dengan banyak aktivitas dan lebih banyak wisatawan keluarga.

Masing-masing restoran menawarkan kursi sederhana dengan pemandangan laut. Tempat ini baru saja berkembang jika pantai lain mulai sepi. Jika Anda memiliki uang terbatas, opsi seperti ini mungkin menarik bagi Anda. Tempat ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk bersenang-senang, meskipun ngopi sederhana di kala senja hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki uang untuk menyewa resort mewah.


Area Pantai Marina lebih bersih dan teratur dibandingkan dengan dua pantai sebelumnya. Sayang, saya tidak dapat tinggal di sana untuk waktu yang lama. Jika Anda menempuh perjalanan di malam hari, jarak penginapan ke tempat ini cukup jauh. Pantai Jepara mengingatkan saya pada beberapa hal. Bahwa Tuhan memberi kebahagiaan dengan tidak kurang-kurang, bahwa manusia lebih sering lupa bersyukur dan merawat alam, dan kitalah yang menodai titipan-titipan itu dengan sikap keras kepala kita yang terus menerus, menghasilkan sampah dan membuangnya sembarangan.

Ini pasti PR untuk semua masyarakat Indonesia, bukan hanya orang Jepara. Tidak jelas dari mana bungkus Pop Mie itu berasal; mungkin ia melarikan diri dari salah satu pulau di timur Indonesia atau dari salah satu tempat di Ibu Kota. Itu jelas kita, bukan kucing atau makhluk gaib. Saya berharap pantai Jepara menjadi lebih bersih dan cantik. Semua orang harus segera bergerak agar situasi tidak bertambah parah, dan tim Pandawara harus hadir.






























 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menamatkan Sore di Jepara Beach

  Pantai dan sampah adalah dua hal yang menurut saya tidak sesuai jika disandingkan. Dua hal ini tidak seharusnya berada di dekat satu sama ...