Cari Blog Ini

Halaman

Kamis, 15 Januari 2026

Ini adalah Suasana Malam Kota Lama Semarang



Setelah tinggal di Yogyakarta selama lebih dari seminggu dan melewatkan pergantian tahun, tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal lagi kepada kota yang selalu membuat saya kangen. Dari Yogya, kami pergi melalui Jalan Solo seperti biasa, dan setelah Prambanan, kami masuk ke jalan tol Yogya-Solo. Hujan menyertainya sepanjang perjalanan. Tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat garis-garis air mengalir tanpa henti di atas kaca mobil, membuatnya terlihat seperti jalanan lelah. Hujan turun dengan cepat saat memasuki wilayah Kota Semarang. Aspal telah kering, tetapi langit tetap kelabu. Seolah-olah hujan hanya sampai ke gerbang kota, dan banyak orang tetap diam.

Tujuan kami pada sore hari adalah untuk mengunjungi kota tua dan makan malam di tempat yang sudah menjadi langganan kami, Ikan Bakar Cianjur. Kami menuju Kota Lama melalui Jalan Kaligawe dan Raden Patah tidak lama setelah keluar dari jalan tol Srondol Tanjung Mas. 


Rencana langsung, bagaimanapun, buyar begitu kami tiba di Jalan Letjen Suprapto. Jalan utama terblokir. Tidak ada kendaraan, tidak ada motor. Hanya pejalan kaki yang diizinkan untuk masuk. Akhir pekan di Kota Lama sering terjadi seperti itu; ruang diberikan kepada orang-orang, bukan kendaraan. Akhirnya, kami memutar belakang dan melewati Stasiun Tawang sebelum melewati Jalan Cendrawasih. Di Jalan Kepodang, tepat di depan resto Pering Sewu, kendaraan akhirnya berhenti di depan Bank Mandiri. Gedung tua yang dicat putih ini tampak angkuh, dan di dindingnya tertulis "LIVIN' A LIVELY LIFE WITH". Salah satu bagian dari promosi aplikasi digital Bank Mandiri, Livin by Mandiri, adalah tulisan ini.

Parkir di sini dijaga seorang mbak tukang parkir. Ikan Bakar Cianjur sudah dekat, "Paling dua-tiga menit, jalan kaki" Setelah menerima uang parkir, mbaknya pergi entah ke mana. Kabur, mungkin. He-he. Kota tua memang selalu punya humor kecil seperti itu. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Begini Suasana Kota Lama Semarang di Malam Hari",  


Kami berjalan melewati Jalan Suari, jalan kecil sepanjang beberapa puluh meter. Setelah beberapa langkah, Anda akan melihat Gereja Blenduk, bangunan paling ikonik di kota lama, yang dipenuhi dengan cahaya terang di malam hari. Tampa sangat menarik. Kubahnya berdiri dengan tenang, cat putihnya kontras dengan langit yang hitam karena mendung yang tidak memiliki bintang. Gereja ini mirip dengan penjaga waktu: mereka diam, tetapi tetap ada. Saya melihat Kubahnya yang megah, dan menurut informasi, Gereja ini pertama kali dibangun oleh orang Portugis pada tahun 1753, tetapi kemudian dibangun kembali oleh orang Belanda.

Sebenarnya, istilah "Blenduk" berasal dari bahasa Jawa, yang merujuk pada bentuk kubahnya yang "mblenduk", yang berarti cembung atau membulat. Gedung ini telah di renovasi berkali-kali sepanjang sejarahnya. Renovasi besar-besaran yang dilakukan pada tahun 1894 oleh arsitek terkenal H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas membentuk bentuk saat ini.


Ini adalah Jalan Letjen Suprapto saat ini, yang penuh sesak dan didedikasikan untuk pejalan kaki. Kami menuju IBC (Ika Bakar Cianjur) dengan belok ke kiri melalui Jalan Batu. Resto ini terletak di bangunan besar yang dirancang dengan gaya rumah kolonial, dengan dinding putih, atap segitiga yang tinggi, dan jendela besar berjeruji yang mengeluarkan cahaya hangat dari dalam. Kelihatannya seperti rumah lama yang tenang, rapi, dan berwibawa. Itu lebih seperti rumah peristirahatan kuno daripada restoran.

Papan nama IBC dengan warna kuning terang dan lampu neon terlihat jelas di sisi kanan. Dengan tulisan "Ikan Bakar Cianjur" yang menyala jelas dan logo halal, seolah-olah menunjukkan bahwa restoran ini adalah tempat makan keluarga yang sudah mapan dan terkenal di masyarakat. Dari jarak jauh, cahaya papan ini terlihat lebih baik daripada langit malam yang gelap. Ada beberapa tempat parkir yang sudah berderet rapi. Ketika saya bertanya kepada penjaga yang berjaga, dia menjawab bahwa mobil mobil itu dapat dimasukkan sebelum pukul enam sore.

Gedung IBC ini dibangun pada tahun 1760 dan sebelum menjadi restoran, itu adalah kantor Pengadilan Belanda.Itu disebut Rad Van Justitie (Kantor Pengadilan) selama pemerintahan Hindia Belanda. Hingga awal tahun 2000-an, gedung tersebut masih digunakan oleh lembaga hukum sebagai Pengadilan Negeri Semarang setelah Indonesia menjadi negara merdeka. Setiap kali kami lewat atau menginap di Semarang, kami masuk ke restoran langganan. Menyambutnya adalah suasana tenang di ruang. Meja-meja yang terbuat dari kayu jati berwarna cokelat tua diatur dengan rapi, dan kursi-kursinya bersandar dengan tenang.

Pintu kaca berdaun ganda menampilkan lukisan bunga berbingkai emas di dinding yang putih bersih. Di latar hijau gelap, bunga-bunga itu mekar dengan lembut dan memantulkan cahaya hingga tampak sedikit berkilau. Di sisi kanan, sebuah piring hias dengan motif bunga tergantung dengan rapi, memberi kesan klasik yang terasa Jawa—atau mungkin lebih tepatnya, Indonesia kuno yang akrab dengan gaya rumah keluarga.

Kami memesan ikan gurami bakar, sayuran, dan minuman lainnya; saya sendiri memesan kelapa muda. Setelah makan, waktunya untuk berkeliling Kota Lama. Meskipun saya telah mengunjungi tempat ini beberapa kali, malam ini suasananya lebih ceria dan indah daripada sebelumnya.


Setelah makan, Anda merasa lebih kenyang dan langkah Anda menjadi lebih santai. Kami kembali berjalan kaki, mengeksplorasi area yang sama dari perspektif yang berbeda. Kami kembali ke Gereja Blenduk, kali ini dari sisi lain. Selamat Natal dan Tahun Baru 2026! Nama Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, atau Mbak Ita, dan Wakil Wali Kota, Ir. H. Iswar Aminuddin, keduanya dapat dibaca dengan jelas.

Tidak jauh dari sana, sebuah pohon Natal besar yang penuh dengan lampu berkilau menarik perhatian. Semua orang berkumpul di sekitarnya, termasuk keluarga, anak kecil, remaja, pasangan, dan pengunjung yang jongkok untuk mendapatkan gambar terbaik. Ada tawa, pose spontan, dan anak-anak yang tampaknya sangat menantikan kesempatan untuk difoto. bangunan tua, banyak orang, dan lampu jalan kolonial.


Saya terus berjalan dan melewati Taman Srigunting, ruang terbuka yang selalu dihidupkan oleh bicara, foto, dan langkah kaki yang tidak terburu-buru. Di malam hari, lampu taman klasik menyala temaram dan mengirimkan cahaya kekuningan ke dedaunan dan paving. Taman Srigunting berubah dari sekadar tempat hijau menjadi tempat pertemuan di bawah cahaya. Anak-anak berlari tanpa alas kaki, pedagang kecil kadang-kadang melintas, fotografer menempatkan tripod mereka, dan pengunjung berdiri di depan Gereja Blenduk mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.

Sejarah ada di balik nama Srigunting sendiri. Pada zaman kolonial, tempat ini disebut Paradeplein, tempat barisan militer dan tempat upacara. Kelonggaran penduduk kota sekarang menggantikan disiplin barak. Tempat yang dulunya menggambarkan kuasa, sekarang menggambarkan kebersamaan. Sejarah tidak dihapus; sebaliknya, rumput, tawa, dan langkah kaki melunakkannya.


Kami melangkah ke depan Spiegel, bangunan yang sudah berubah menjadi kafe, tetapi masih mempertahankan gaya arsitektur lamanya. Saya masih ingat beberapa bulan lalu, setelah abertandang ke Kudus dan lasem, saya sempat berkumpul di sini dengan teman-teman. Bangunan ini, yang merupakan toko serba ada modern pertama di Semarang, didirikan pada tahun 1895. Toko Spiegel adalah bisnis keluarga Yahudi-Belanda yang berdagang tekstil dan perlengkapan rumah tangga mewah. Lokasinya sangat strategis karena berada di sudut persimpangan jalan utama kawasan bisnis Eropa, menghadap Gereja Blenduk, dan dekat dengan Taman Srigunting.

Bentuk bangunan sudut (hoekgebouw) yang tegas dengan jendela-jendela besar untuk etalase menunjukkan bahwa Spiegelgebouw dibangun dalam gaya arsitektur Neo-Renaissance Eropa. Dinding bata yang tebal serta lengkungan dan detail cornice memberi kesan kokoh dan mewah pada gedung spiegel ini.

Tampak seperti Hotel Kotta yang dominan warna putih di seberang sana. Dia seolah-olah berbeda dari yang lain karena dia adalah banguna modern yang berasal dari renovasi gedung tua yang tidak lagi merupakan cagar budaya. Saya masih ingat ketika hotel ini diresmikan pada tahun 2022.


Gedung yang tidak kalah tua masih ada di Jalan Letjen Suprapto, yang sebelumnya dikenal sebagai Herrenstraat. Bata merahnya mencolok bahkan di malam hari. Ini gedung MARBA. Ternyata nama Marba itu akronim dari pemiliknya, Martak Badjunaid.


Saya berjalan melewati Jalan Gelatik dan melihat Warmindo Kota Lama karena hari sudah cukup larut. Tempat ini cukup ramai, terutama anak-anak muda. Di tingkat dua, ada foto studio yang menawarkan penyewaan busana Jawa tradisional dengan harga hanya Rp5.000 per gambar.


Saya terus berjalan dan melihat sebuah rumah berlantai dua yang tua di sebelahnya. Spanduk yang dipasang menunjukkan bahwa rumah ini dijual. Bangunan ini dirancang dalam gaya kolonial atau klasik, dengan balkon panjang di lantai atas yang dihiasi dengan ornamen kayu dekoratif dan pagar teralis besi lipat di lantai bawah. Gigi yang sangat mirip dengan gigi balang yah sering ditemukan di rumah-rumah khas Betawi atau Tionghoa.

Saya kembali ke Jalan Kepodang dalam waktu singkat. Melihat resto di Pringsewu mulai sepi. Saya masih ingat terakhir kali saya datang ke sini dan melihat brankas besar milik raja gula Oey Tiong Ham.

Jalan-jalan malam di kota lama Semarang, yang disebut Little Netherland, telah selesai. Semoga kita bertemu lagi.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini adalah Suasana Malam Kota Lama Semarang

Setelah tinggal di Yogyakarta selama lebih dari seminggu dan melewatkan pergantian tahun, tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal la...