Liburan Sekolah, Berkemah di Waduk Sermo
tanggal 22 Juni 2025
Setelah memutuskan untuk tidak mengikuti perjalanan studi ke Jepang yang diadakan sekolahnya, dia kehilangan janjinya dengan anak itu. Biayanya hampir 50 juta rupiah, dan tidak ada manfaatnya untuk remaja seperti anak saya. Saya berbicara dengan anak untuk waktu yang lama tentang keputusan kami untuk pergi atau tidak ke kegiatan studi tour ke Jepang. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak pergi. Tidak puas? Itu pasti. Kami memutuskan untuk membuat program libur sekolah yang lebih realistis untuk mengurangi kekecewaan anak-anak. Kami akan menikmati liburan sekolah yang hampir satu bulan dengan banyak kegiatan yang menyenangkan, bermanfaat, murah, dan tentu saja lebih bernilai daripada liburan ke Jepang.
Pada hari pertama liburan, kami pergi ke Waduk Sermo, Kokap, dan Kulon Progo untuk wisata kecil. Kami mencari informasi melalui berbagai media dan orang-orang yang pernah mengunjungi Waduk Sermo. Sejauh yang kami ketahui, Waduk Sermo memiliki fasilitas baru, yaitu tempat camping. Pengunjung dapat menginap di tenda yang disediakan oleh komunitas setempat. Berbagai paket tersedia, mulai dari yang paling murah dengan fasilitas standar hingga yang paling mahal dengan fasilitas premium.
Anak saya mencari informasi di media sosial sendiri; tampaknya dia tertarik dengan kesempatan untuk mancing ikan di Waduk Sermo. Banyak spot mancing dengan berbagai jenis ikan. Ia sangat terkejut karena hobi mancingnya akan segera berakhir. Kami berangkat dari rumah pukul 16.00 WIB. Jaraknya kurang lebih tiga puluh kilometer menuju tempat camping di Waduk Sermo. Kami memesan paket komplit, jadi tidak banyak peralatan yang kami bawa karena pengelola sudah menyediakannya.
Dengan harga hanya Rp 230 K, paket komplit ini mencakup tenda, kasur, bantal, lampu, meja, kursi, peralatan makan, tiket masuk, dan bea parkir kendaraan. Kami tiba di lokasi pukul 17.00 WIB. Banyak tendanya sudah terpasang di sekitar waduk, menunjukkan betapa ramainya pengunjung. Setelah melakukan registrasi, kami diminta oleh pengelola untuk menempati tendanya.
Ada atap yang kuat dan jendela dan pintu yang dilapisi slintru, semacam jaring yang mencegah nyamuk masuk. Tempatnya hanya dua meter dari tepi waduk, dan Anda dapat parkir mobil di samping tenda. Di samping tenda, peralatan masak sudah disiapkan, dan ada meja dan kursi untuk bersantai menikmati pemandangan. Meskipun cuaca mendung pada saat itu, pemandangan waduk tetap memesona; air waduk yang kilau berpadu dengan suasana hutan dengan banyak pepohonan. Kerlip lampu di sekitar waduk, di atas bukit, dan di langit sangat memanjakan mata.
Kami nyalakan kompor untuk memanaskan air, dan kami akan membuat kopi dari rumah. Kami membuat dua cangkir kopi susu untuk masing-masing. Saat malam semakin larut, para pengunjung sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Ada yang bernyanyi dengan peralatan musik yang disediakan pengelola, ada yang memainkan gitar, dan ada yang bersenda gurau. Saya memutuskan untuk memasak, dan menunya terdiri dari sosis dan kambing bakar. Daging pembagian Idul Kurban kemarin masih ada di kulkas.
Anak saya masih bermain pancing; dia memasang beberapa joran untuk berbagai jenis umpan.
Saya berteriak, "Le, sini makanan sudah siap!"
Anak saya sangat gembira malam ini. Dia pergi ke meja perjamuan dengan joran yang belum sempat dibuang ke waduk. Ia menggunakan garpu untuk menusuk daging kambing yang masih kemebul.
Saya menyarankan, "Duduk Le, nanti lagi mancingnya setelah makan."
Ia menyelesaikan santapan pertamanya saat ia duduk.
Anak saya memuji daging kambing bakar yang saya sajikan dengan berkata, "Enak Pak, gurih empuk."
Saya hanya mengeluarkan senyuman. Anak saya makan dengan sangat baik malam ini karena dia belum makan sejak siang.
Mlam itu, kami banyak berbicara, tidak seperti bapak dan anak, tetapi lebih seperti teman. Salah satu dari banyak topik yang kita diskusikan adalah studi tour yang gagal dia ikuti.
"Apakah kamu kecewa tidak bisa pergi ke Jepang dengan teman-temanmu, Le?" tanya saya kepada anak itu.
"Tidak ya, Pak, mending untuk daftar umroh saja Pak, bisa untuk berdua," jawabnya.
Saya tidak berkata apa-apa, dan hati saya senang. Saya mencoba memegang kepala anak saya, tetapi dia menolak. Saya tatap wajahnya, tapi ia mlengos ke arah yang lain, dan saya bisa memegang ujung tangan kanannya.
Saya diajak tidur olehnya, "Le, besok kita bangun pagi pasti pemandangannya keren."
Ini adalah pertama kalinya anak kami tidur di luar rumah, jadi kami tidur dengan sangat pulas malam itu.
Pemandangan Waduk Sermo di pagi hari pasti luar biasa. Suara keras ayam hutan dan hewan lain yang tinggal di Waduk Sermo adalah kombinasi yang sempurna dari sinar matahari pagi, kilau air waduk, pepohonan, dan barisan Bukit Menorah.
Setelah sarapan selesai, perahu motor menghampiri tenda. Bapak-bapak separuh baya yang mengendarai perahu turun menawarkan layanan naik perahu untuk mengunjungi Waduk Sermo dan menikmati pemandangannya. Biayanya murah, hanya 10 ribu rupiah per orang selama 30 menit. Jika kita naik speed boat di Telaga Sarangan, biayanya mencapai 50 ribu rupiah per orang.
Anak saya selalu ingat naik perahu di Waduk Sermo. Setiap momen yang dia anggap indah selalu diabadikan oleh ponsel pintar. Mengambil pancing yang anak saya pasang tadi malam di beberapa tempat adalah bagian akhir dari perjalanan ini. Anak saya mengangkat setiap joran dari lebih dari lima joran, tetapi tidak ada ikan yang muncul.
Di bawah dermaga, satu joran terakhir berubah posisi, mungkin karena umpanya dimakan.
Dari kejauhan, anak berteriak, "Pak umpanya dimakan!"
"Alhamdulillah, dapat Le?" Saya menjawab.
"Bisa, tetapi kecil!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar