Cari Blog Ini

Halaman

Sabtu, 14 Februari 2026

Jungwok Blue Ocean: Pantai Gunungkidul yang mengingatkan pada Santorini

 


Berapa lama saya tidak melakukan piknik di pantai Gunungkidul? Tidak seperti dua tahun sebelumnya. Bukan karena saya tidak ingin sembuh, tetapi hari libur saya sering digunakan untuk istirahat di rumah. Untuk alasan ini, weekend identik dengan rebahan dan me time karena rutinitas sebagai officer menguras energi dan pikiran.
Saya benar-benar jenis orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada berjalan jauh ketika sudah lelah. Tapi entah kenapa, saya mulai merasakan keinginan untuk suasana baru dan udara segar selama beberapa bulan terakhir. Kelompok dasawisma kampung saya memiliki rencana piknik ke pantai gunungkidul kemarin, tepatnya ke pantai Jungwok Blue Ocean. Meskipun saya sudah sering mendengar nama pantai Jungwok, saya belum pernah pergi ke sana.

Dengan mengingat bahwa ini adalah salah satu pantai Gunungkidul yang paling terkenal dan telah menjadi viral, saya merasa sangat tertarik. Klip pantai yang diambil dari akun Instagram @jungwokblueocean dapat ditemukan di sini:


Perjalanan Mengesankan ke Pantai Gunungkidul
Perjalanan kami memakan waktu sekitar dua setengah jam dan menempuh jarak kurang lebih 85 kilometer. Sekitar 26 orang naik bus ukuran medium yang kami gunakan. Tidak hanya ramai, tetapi juga menyenangkan. Dengan dresscode putih, kami tampak segar pagi itu. Semangat ibu-ibu lainnya benar-benar luar biasa. Mereka memiliki energi positif yang membuat saya kewalahan mengikutinya, karena saya lebih muda dari mereka.

Selama perjalanan, kami bernyanyi, bercanda, dan beberapa dari kami bernostalgia dengan lagu-lagu lama. Kami sengaja menghidupkan suasana agar perjalanan terasa lebih cepat. Oh ya, saya selalu percaya bahwa perjalanan adalah bagian penting dari cerita, jadi waktu yang dihabiskan di bus benar-benar berharga. Pantai-pantai di daerah gunung selalu memiliki daya tarik tersendiri. Pantai Jogja sejak lama terkenal dengan tebing karst dan pasir putihnya yang bersih. Saya mulai membayangkan pantai Jungwok yang katanya indah itu sebelum sampai ke tujuan.

Bus kami akhirnya memasuki kawasan pantai Jungwok Blue Ocean. Bangunan putih dan biru laut yang indah terlihat dari jarak jauh. Segera, mata kami berbinar. Artinya, kami telah mencapai lokasi pantai gunungkidul yang menjadi viral. Jungwok Blue Ocean menggabungkan keindahan pantai Gunungkidul klasik dengan konsep gaya yang menarik dan instagrammable. Sangat sesuai untuk liburan bersama keluarga, pasangan, dan bahkan konten kreatif. Oh ya, pantai Jungwok biasanya memiliki area pantai yang tersedia sepanjang hari. Namun, tempat komersial seperti spot foto Santorini khas biasanya buka dari pukul 08.00 09.00 WIB hingga 19.00 21.00 WIB pada hari kerja, dan bisa sampai pukul 20.00 21.00 WIB pada hari libur nasional atau weekend.

Saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Bangunan putih biru membuat kontras dengan langit yang cerah dan laut selatan yang luas. Meskipun ini masih di pantai gunungkidul, rasanya seperti lagi berada di luar negeri.

Keuntungan dari Pantai Gunungkidul dibandingkan dengan Jungwok Blue Ocean
Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari Pantai Jungwok Blue Ocean yang membantu saya memahami mengapa tempat ini begitu disukai oleh wisatawan:

1. Ide Wisata Unik untuk Santorini
Di pesisir selatan Jogja, bangunan putih-biru yang khas dari Santorini (Yunani) menciptakan suasana yang berbeda. Dengan nuansa Eropa yang kuat, karakter pantai Gunungkidul tetap alami. Bagi mereka yang menyukai fotografi estetik, tempat ini adalah lokasi yang luar biasa.


2. Banyak Lokasi untuk Foto Instagramable
Banyak tempat gratis dan menarik untuk berfoto di kawasan wisata. Hasil foto tampak mahal dengan latar belakang laut biru, balkon putih, dan sudut artistik. Saya ingin mengambil gambar dari hampir setiap sudut, hahahaha.

3. Pemandangan Menawan dari Alam
Panorama laut di selatan Gunungkidul sangat indah. Pemandangan sempurna adalah pasir putih, ombak berirama, dan tebing karang alami. Meskipun ada banyak pantai yang bagus di Gunungkidul, Jungwok adalah pantai yang menggabungkan konsep modern dan alam secara unik.

4. Fasilitas Wisata Terbaik
Pantai Jungwok Blue Ocean memiliki banyak fasilitas, seperti:

Permainan Anak dan Mini Pool
Tempat bermain anak dan kolam mini menambah kenyamanan keluarga.

Parkir dan Mushola
Tempat parkir yang luas, toilet yang bersih, dan mushola tersedia. Oleh karena itu, pengunjung tidak perlu khawatir tentang kenyamanan.

Restoran dan toko kecil dan menengah
Restoran dengan pemandangan laut memiliki toko sepatu dan souvenir. Center Area Santorini menjadi tempat bagi perusahaan kecil dan menengah lokal untuk menjual produk unik mereka.

5. Aktifitas yang Seru dan Bervariasi: ATV dan Camping
Anda dapat menginap di camping di bawah langit yang cerah atau berkeliling pesisir dengan ATV.

Pemancingan
Orang-orang yang suka mancing dapat menemukan area karang cukup menarik untuk dicoba.
Aktivitas-aktivitas ini membuat kunjungan ke pantai gunungkidul lebih hidup dan tidak monoton.


6. Harga Tiket Murah
Kita sudah bisa menikmati fasilitas dan tempat foto dengan harga tiket masuk sekitar Rp 25.000–Rp 35.000. Saya pikir ini sangat layak untuk pengalaman sekelas Jungwok Blue Ocean.

Tips untuk Mengunjungi Pantai Gunungkidul
Untuk memaksimalkan liburan, saya dapat memberikan beberapa saran berikut:

Sampai Sore Hari
Itu benar. Anda harus tiba di sini mulai pukul 15.00 WIB dan terus sampai sunset. Cahaya matahari keemasan dan udara yang lebih sejuk membuat foto lebih syahdu. Saya benar-benar menyukai momen ini karena efek cahaya yang luar biasa.

Berpakaian Cerah
Latar belakang putih biru Jungwok Blue Ocean cocok dengan warna putih atau pastel.


Pastikan kamera atau HP Anda memiliki cukup memori.
Percayalah, Anda akan menjadi sangat terhibur dalam foto. Jika Anda ingin foto yang lebih baik, ada banyak mas fotografer yang siap mengabadikan momen terbaik Anda. Harga per file foto yang dapat Anda kirim ke HP Anda sekitar 5 ribu rupiah. Meskipun pantai Jogja selalu menarik, pantai gunungkidul memiliki tebing dan laut lepas yang unik. Wisata lokal berkembang tanpa kehilangan identitas alamnya, dan pantai Jungwok adalah salah satu contohnya.

Move On dari Pantai Gunungkidul Sulit. Liburan kemarin sangat menyenangkan. Pantainya sangat indah sehingga saya tidak pingin pulang dengan cepat. Jepret-jepret di mana-mana selalu menarik. Oh, satu hal yang saya sadari adalah bahwa saya harus keluar dari rutinitas sesekali dan memberi waktu untuk menikmati ciptaan Tuhan. Pantai gunung mengingatkan saya bahwa hidup tidak hanya tentang pekerjaan dan tujuan.


Saya pulang dengan pikiran dan hati yang lebih baik. Energi terasa penuh kembali. Mungkin sudah waktunya untuk pergi ke pantai Jungwok Blue Ocean jika Anda lelah. Tidak jelas apakah akan mudah bagi Anda untuk meninggalkan keindahan pantai gunungkidul ini.







































Bogor Tempat Terbaik untuk Menghabiskan Weekend Imlek yang Luas dan Menyenangkan


 Preen, selalu ada cerita menarik di sekitar kita selama aktivitas sehari-hari. Banyak warga Jakarta mulai mencari tempat wisata yang dekat dan fleksibel untuk istirahat singkat menjelang libur panjang Imlek. Bogor kembali menjadi pilihan favorit bagi mereka yang tinggal di Jakarta. Bogor menawarkan berbagai jenis liburan singkat yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap pengunjung, mulai dari tempat wisata alam, destinasi keluarga, camping ground, hingga kafe yang indah. Preen, ini adalah lima tempat di Bogor yang dapat Anda coba untuk menghabiskan liburan panjang Imlek Anda.

1: Curug Cibaliung
Curug Cibaliung terkenal karena airnya yang jernih dan suasana alamnya yang tenang. Wisatawan yang ingin menikmati perjalanan alam dengan trekking singkat dan suasana yang lebih tenang adalah orang yang tepat untuk tempat ini.

2. Cimory (Riverside, Riverland, dan Puncak Dairyland)
Cimory menawarkan ide liburan keluarga yang menggabungkan pendidikan, makanan, dan area bermain. Wisatawan dengan anak-anak sering mengunjungi tempat ini saat liburan.

3. Tanah Gunung Pancar
Camping ground di daerah Gunung Pancar menjadi pilihan menarik bagi mereka yang suka bermain di luar ruangan. Hutan pinus dan udara sejuk menawarkan pengalaman liburan unik untuk waktu singkat.

4. Kopi Daong, Kafe Estetik
Di tengah hutan pinus, kopi Daong menawarkan suasana tenang. Kafe ini sering menjadi tempat persinggahan setelah perjalanan alam atau tempat nongkrong santai tanpa jadwal yang padat.

5. Taman Nasional Bogor
Kebun Raya Bogor, ikon kota, masih menjadi tempat favorit untuk berjalan-jalan dan piknik. Ini adalah tempat yang aman untuk semua usia karena berada di pusat kota.

Mengingat preen, perjalanan jauh tidak selalu diperlukan untuk liburan panjang Imlek. Dengan jarak yang relatif dekat dan berbagai pilihan destinasi, Bogor masih memberikan waktu yang cukup untuk kite mengatur ulang energi mereka sebelum kembali ke rutinitas. Melihat Anda, Preen!












Gedung Agora Jakarta memiliki Jembatan Kaca


Pengalaman berjalan di jembatan kaca di Agora Mall Thamrin Nine harus dicoba jika Anda menyukai tantangan dan lokasi foto unik. Tempat ini berada di lantai 106, di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, dan menawarkan sensasi berjalan di atas langit dengan pemandangan kota dari atas. Saya mencoba meniti jembatan kaca yang sekarang menjadi viral di Jakarta minggu lalu bersama teman sekolah menengah saya. Pengunjung dapat merasakan pengalaman yang berbeda dari jalan-jalan di mall biasa dengan tiket masuk seharga Rp118.000 yang dapat dibeli langsung di lantai dasar.


Kita hanya bisa mencapai teras gedung di lantai atas dengan jembatan kaca setelah naik dua kali lift ke lantai 106. Jembatan ini terbuat dari kaca yang aman dan kokoh. Dari bawah kaki Anda, Anda dapat melihat langsung gedung-gedung tinggi dan jalanan Jakarta. Untuk melewati jembatan kaca, pengunjung harus memakai sarung sepatu kain yang telah disiapkan oleh petugas.


Pada awalnya, saya merasa deg-degan ketika saya melihat ke bawah mobil-mobil kecil yang melintasi Jalan MH Thamrin. Namun, ketika Anda terbiasa dengannya, sensasinya justru menyenangkan dan menggelikan.
Beberapa hal yang membuat pengalaman ini unik adalah melihat lantai kaca yang bening dan transparan, yang memungkinkan Anda melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, dan suasana yang eksklusif dan modern. Sangat cocok untuk uji nyali kecil. Jembatan kaca ini tidak hanya seru, tetapi juga sangat instagramable. Hampir setiap sudutnya dapat digunakan sebagai latar foto yang indah. Untuk mengambil foto di area ini, orang harus antri bergantian karena jembatan kaca panjang sepuluh meter dan lebar satu meter. Di rooftop juga ada ayunan, tetapi setiap sesi membutuhkan biaya tambahan Rp 80.000.

Berdiri di tengah jembatan kaca, duduk santai, mengambil foto siluet dengan latar gedung, dan melihat kota dari atas adalah tempat foto yang bagus di area jembatan kaca. Hasil fotonya menarik dan futuristik, yang membedakannya dari spot foto mall biasa. Pengunjung harus membeli tiket seharga Rp118.000 per orang untuk masuk ke area jembatan kaca, yang tersedia dari jam 10.00 hingga 15.00. Harga tiket naik menjadi Rp 180.000 menjelang sunset mulai pukul 16.00 hingga 18.00.

Tiket biasanya dapat dibeli langsung di lokasi atau melalui sistem pemesanan melalui aplikasi wisata yang tersedia di internet. Petugas akan mengarahkan pengunjung dan memberi mereka instruksi untuk menjaga keamanan setelah mereka masuk. Untuk membuat pengalaman ini nyaman, keamanan diprioritaskan. Hasil foto sangat dipengaruhi oleh cuaca. Saat saya tiba, hujan sudah berhenti dan cuaca mendung. Karena itu, gambar yang saya ambil tidak cerah. Coba ikuti tips ini untuk mendapatkan hasil foto terbaik: datang ketika cuaca cerah agar pemandangan lebih jelas. Untuk foto, pakaian harus berwarna cerah atau netral. Pastikan Anda memakai sepatu yang nyaman.

Orang-orang di Jakarta yang ingin mencoba pengalaman baru di tengah kota dapat mengunjungi Jembatan Kaca, yang terletak di lantai 106 Agora Mall. Berjalan di atas kaca adalah pengalaman yang bisa dinikmati oleh orang-orang dengan harga Rp118.000. Mereka juga dapat melihat kota dari ketinggian dan mengambil foto yang menarik untuk diposting di media sosial.


Jika Anda ingin menghabiskan waktu bersama teman, pasangan, atau keluarga, tempat ini adalah tempat yang tepat. Mampir dan coba pengalaman baru saat Anda berada di sekitar MH Thamrin.























Sabtu, 07 Februari 2026

Goa Gudawang Cigudeg: Saat Sejarah, Misteri, dan Alam Bertemu

 


Tiga Goa di Gudawang: Keindahan Sunyi, Mitos, dan Keindahan Alam

Tujuan kami pagi itu sangat mudah. Melakukan perjalanan santai dan menghirup udara segar di sudut kota Bogor tanpa rencana atau daftar tujuan. Kami berdua berangkat dari rumah pada pukul enam pagi dengan kendaraan tua yang telah setia menemani perjalanan kecil kami selama bertahun-tahun. Kami tiba-tiba berhenti di papan penunjuk yang menunjukkan Goa Gudawang saat jalan membawa kami ke Cibedug. Tidak ada perlengkapan yang diperlukan untuk susur goa, dan tidak ada cara untuk masuk ke perut bumi. hanya rasa penasaran yang muncul secara bertahap. Saat saya memparkir mobil saya, saya melihat jam, yang menunjukkan pukul 08:30. Kami merasa dua setengah jam perjalanan telah berlalu begitu saja. Sepertinya tempat ini "menunggu" pengunjung.

Gudawang dan Cerita yang Tidak Pernah Dijelaskan Secara Penuh
Orang-orang di daerah itu mengatakan bahwa nama Gudawang berasal dari kata "Kuda Lawang", yang merupakan bentuk ekor kuda yang dikepang. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang signifikan bagi masyarakat. Dipercaya bahwa para pendekar dari Tanah Pasundan sering mengunjungi tempat ini. Bahkan ada yang menyebut Goa Gudawang sebagai salah satu peninggalan Prabu Siliwangi. Selain dua belas goa yang dapat dilihat secara fisik, ada cerita tentang tujuh pintu goa yang gaib. Orang-orang mengatakan bahwa pintu-pintu ini tidak selalu dapat ditemukan, apalagi melewatinya.

Di sini pula hidup mitos tentang penunggu berupa jelmaan macan. Namun yang lebih sering diingat warga bukan sosoknya, melainkan pesan yang menyertainya: datanglah dengan niat baik, jaga ucapan, dan jangan berlaku angkuh. Larangan itu tidak tertulis, tetapi dipercaya. Beberapa orang yang melanggar disebut mengalami perasaan aneh-bingung, gelisah, bahkan seperti tidak sepenuhnya mengendalikan pikirannya saat berada di dalam goa. Dari dua belas goa, baru tiga goa yang dikelola dan dibuka untuk pengunjung. Kami memilih menyusuri ketiganya.


Goa Simenteng: Lembut, Indah, dan Hidup
Goa Simenteng adalah Goa pertama. Cahaya berubah drastis begitu melewati mulut goa. Semuanya menjadi gelap, lembap, dan tenang. Stalagmit dan stalagmit terbentuk secara alami, menggantung dan menjulang seperti saksi waktu yang tidak pernah berbicara. Meskipun cukup curam, anak tangga telah dibuat. Di bagian bawah terdapat sumur yang dianggap memiliki karomah. Kami tidak melakukan uji coba apa pun. Kami berdiri sebentar, merasakan udara dingin yang berbeda dari luar.

Suara langkah kaki terdengar lebih jelas semakin ke dalam. Kelelawar tetap diam di atas kepalanya, seolah-olah melihat. Ada genangan air dan aliran kecil yang mirip dengan sungai mengalir di sana. Saat itu, satu lampu menyala, dan sisanya gelap. Di ujung goa, bau kelelawar yang kuat membuat napas berat. Kami keluar dengan perasaan lega, dan kami agak kaget mengapa suasana begitu tenang.



Goa Simasigit: Hewan Sepi yang Diduga Mengucapkan Doa
Simasigit adalah Goa kedua. Hawa sejuk langsung menyelimuti tubuh begitu masuk. Tidak dingin, tetapi cukup untuk mengubah bulu kuduk. Cerita magis paling sering beredar di goa ini. Beberapa pengunjung mengatakan mereka mendengar suara mengaji dan azan dari dekat masjid. Menurut penjaga, seorang pengunjung di hari Jumat melihat banyak orang bersarung dan berkupiah memasuki goa, meskipun dia sendirian saat itu. Goa Simasigit benar-benar indah secara visual. Stalagmit dan stalagmit masih ada di sana. Di bagian atas goa ada lubang yang memungkinkan cahaya matahari masuk, yang menciptakan suasana terang alami. Namun, di balik cahaya terang, goa ini menyimpan ketenangan yang terasa "berisi".


Goa Sipahang: Saat Tubuh Mulai Memahami
Sejauh sepuluh menit berjalan kaki, Goa Sipahang adalah Goa ketiga. Sungai yang disebut tembus mengalir ke Goa Simenteng di dalamnya. Istri saya berhenti setelah beberapa langkah masuk. Dia menoleh ke arah saya. Tatapan tanpa banyak kata Kami telah bekerja sama selama bertahun-tahun. Saya menyadari perasaannya. "Papa kalau mau masuk, masuk saja." Saya sedang menunggu di luar. Asisten memulai dengan senter kepala. Dalam goa ini, ada aroma yang berbeda. Lebih terang. lebih tertekan Saya masuk 15–20 meter. Kami mulai menunduk saat lorong semakin sempit. Tubuh harus merayap untuk melanjutkan.

Kami memilih untuk menghentikannya.

Saya langsung bertanya kepada pemandu di luar. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 2004 ketika dua mahasiswa masuk tanpa pemandu dan mengabaikan larangan. Hujan turun, goa penuh dengan air, dan keduanya tidak pernah keluar. Sejak saat itu, Goa Sipahang lebih dikenal sebagai goa yang menuntut sikap daripada goa yang menakutkan. Kami membersihkan diri seadanya dan memakai pakaian yang sama saat pulang. Ini menghasilkan rasa hormat yang lebih besar terhadap alam dan cerita yang menjaganya.

Tips untuk Mengunjungi Goa Gudawang

Selalu gunakan pemandu, terutama saat pergi ke Goa Sipahang.
Perhatikan cuaca dan hindari musim hujan.
Hormati sikap dan bahasa, dan gunakan senter kepala, alas kaki anti selip, dan pakaian ganti.
Goa Gudawang bukan tempat untuk menantang keberanian untuk datang pagi hingga siang untuk mendapatkan keamanan dan pencahayaan alami.
Ia adalah tempat di mana Anda dapat belajar mengendalikan diri.

Indah, tenang, dan menyimpan cerita bagi mereka yang bersikap positif.














Efektifkah memantau jarak skywalk Stasiun Cisauk?

 


Sebagai pengguna transportasi publik, khususnya kereta Commuter Line (baca: KRL), saya selalu percaya bahwa naik KRL itu capek bukan hanya di dalam kereta tetapi juga setelah turun. Namun, ini tidak berkaitan dengan mengeluh tentang kesulitan hidup. Dalam hal ini, layanan publik harus terus diperbaiki. Menurut pendapat saya, tidak ada pekerjaan manusia yang sempurna. Namun, orang dapat berkembang dengan memperhatikan setiap evaluasi yang mereka lakukan atas pekerjaan mereka. Kembali soal capeknya tadi. Selain itu, sejak dua kali saya keluar dan masuk Stasiun Cisauk, saya merasa keyakinan saya semakin kuat. Stasiun ini terletak di jalur KRL Rangkas Bitung, yang menghubungkan Stasiun Serpong ke Stasiun Cicayur.

Serasa Sedang Lomba Jalan Santai

Ketika saya turun di Stasiun Cisauk kemarin, salah satu hal yang saya kagumi adalah bagaimana stasiunnya terlihat kontemporer, bersih, dan futuristik. Tempatnya bersih dan teratur. Sebagai informasi, Stasiun Cisauk telah diintegrasikan dengan KRL Commuter Line (rute Tanah Abang-Rangkasbitung) melalui konsep Transit Oriented Development (TOD) dengan antar moda. Sebuah skywalk tertutup sepanjang 350 meter menghubungkan moda KRL dengan Terminal Intermoda BSD City, bus BSD Link, angkutan umum, dan Pasar Modern Intermoda. Sebaliknya, integrasi ini memungkinkan perpindahan moda tanpa meninggalkan area stasiun. Sebaliknya, skywalk berdinding kaca memiliki efek tambahan pada beberapa penumpang atau pengguna jasa.





Saya membayangkan sebuah pintu keluar yang berhadapan dengan pemukiman penduduk setelah menyusuri lorong skywalk sejauh lebih kurang seratus meter. Ternyata perkiraan saya salah. Saya masih harus melanjutkan perjalanan di lorong itu pada tikungan berikutnya. Panjangnya hampir sama. Di sisi kanan saya, saya bertemu dengan para pedagang mikro kali ini. Rasanya seperti mengikuti lomba jalan santai dengan berbagai jenis makanan. Karena ada lintasan yang hampir sama di tikungan berikutnya, perjalanan saya belum selesai. Sementara nafas saya mulai terengah-engah, pakaian saya mulai basah. Tidak hanya panjangnya "lumayan", tetapi juga "kok belum nyampe juga?" Lintasan pejalan kaki dari Stasiun Cisauk ke Terminal BSD terkenal panjangnya 450 meter.

Saya menyusuri jalur yang seolah-olah ingin menguji kesabaran dan stamina saya dari peron menuju titik keluar atau area lanjutan transportasi. Jalan terus, belok, naik, turun, dan kemudian kembali jalan. Saya mulai mengalami sakit di pergelangan kaki saya. Pegal ringan dan dengusan napas tambahan mungkin merupakan gejala kelelahan bagi pengguna yang masih muda dan sehat. Tapi jalur ini bisa terasa seperti misi bertahan hidup level menengah bagi orang tua, lansia, ibu hamil, difabel, atau penumpang dengan anak kecil. Pertanyaan: "Stasiun apa wisata trekking?" muncul di titik tertentu. Jika itu adalah wisata, apa yang ingin dilihat?



Kelelahan yang Terlalu Lama

Ketidakefektifannya adalah masalah utama lintasan skywalk ini. Sepertinya jalur yang ada memutar dan tidak langsung. Pengguna harus mengikuti rute yang sudah ditentukan daripada keluar dan langsung tiba di tujuan.
Itu benar jika tujuannya adalah integrasi antarmoda. Namun, integrasi yang efektif seharusnya dapat mempersingkat jarak, bukan malah menambah langkah demi langkah dalam waktu yang lama.

Saya berterima kasih atas fasilitas lift dan eskalator yang tersedia. Namun, dalam pengalaman kemarin, eskalator di jalur turun ke peron menuju Tanah Abang gagal berfungsi. Meskipun demikian, ada beberapa orang tua yang harus turun dengan sangat perlahan-lahan melalui eskalator atau tangga manual yang tidak berfungsi. Namun, harus diakui bahwa lift dan eskalator hanya membantu mobilitas vertikal, bukan horizontal. Tidak ada gunanya menggunakan lift yang canggih jika harus berjalan ratusan meter. Terutama untuk orang yang menggunakan kursi roda atau orang tua yang berjalan pelan.

Tidak ada tempat duduk atau istirahat yang cukup. Seolah-olah jalur panjang ini dimaksudkan untuk semua orang yang kuat yang terus berjalan. Saya kira ini adalah catatan pentingnya bagi sebuah kota yang mungkin dirancang untuk menjadi kota yang ramah. Kota yang ramah itu tidak memaksa penduduknya untuk menjadi kuat saja; sebaliknya, dia mampu memberi ruang bagi mereka yang lelah. Itu benar—warganya tidak akan lelah. Bangku di peron atau ruang tunggu sangat penting. Duduk sebentar, tarik napas, lalu tarik napas lagi. Sederhana, tetapi pengunjung akan merasa dihargai.

Menit Berharga yang Terbuang

Jangan abaikan waktu juga. Jalur yang panjang otomatis akan memakan waktu. Kondisi ini terutama akan dialami oleh pekerja yang bekerja lebih cepat daripada jam masuk kantor. Agar anak saya tidak terlambat masuk kantor, dia harus mencari kost di sekitarnya. Kadang-kadang, keterlambatan tidak disebabkan oleh kereta yang terlambat; sebaliknya, keluar dari stasiun memerlukan waktu yang cukup lama. Ini paradoks karena transportasi publik sangat bergantung pada kecepatan waktu. Berjalan jauh di tengah jam sibuk, seperti pagi atau sore hari, sambil membawa tas atau barang, jelas bukan pengalaman yang nyaman. lebih-lebih saat hujan atau panas terik.


Pengharapan Orang-Orang dan Penguna Jasa

Sebagai warga dan pengguna, kontribusi ini menimbulkan harapan besar untuk perbaikan fasilitas yang sudah dibangun dengan biaya besar ini. Mungkin dengan menambah bangku istirahat, memperpendek rute tertentu, membuka akses yang lebih langsung, atau menyediakan rute alternatif untuk orang tua dan difabel. Sangat penting untuk mempermudah masyarakat, jadi tidak perlu mewah. Stasiun terdiri dari pengalaman dan bukan hanya bangunan. Dan hal-hal sederhana yang dialami pengguna menentukan pengalaman mereka. Misalnya, seberapa jauh dia harus berjalan, seberapa capek kakinya, dan seberapa dihargai kondisi tubuhnya adalah pengalaman itu. Stasiun yang baik tidak hanya membuat kita bangga memotretnya, tetapi juga membuat kita pulang tanpa harus memijat pergelangan kaki atau betis kita di tukang urut.

Sebagai stasiun modern, Stasiun Cisauk telah maju jauh. Tinggal satu langkah lagi, memastikan bahwa setiap langkah yang dilakukan penggunanya tidak terlalu berat.


































Jungwok Blue Ocean: Pantai Gunungkidul yang mengingatkan pada Santorini

  Berapa lama saya tidak melakukan piknik di pantai Gunungkidul? Tidak seperti dua tahun sebelumnya. Bukan karena saya tidak ingin sembuh, t...