Cari Blog Ini

Halaman

Jumat, 16 Januari 2026

Curug Love: Awal Tahun 2026 Trekking Perdana

 


Pada saat makan siang pada suatu siang, saya tiba-tiba merasa ingin menghubungi teman saya dan mengajaknya berjalan-jalan melihat keindahan alam. Keinginan ini muncul karena saya sudah lama tidak berjalan-jalan di luar ruangan. Saya tiba-tiba mendapat pesan WA dari seorang teman lain sebelum saya sempat menulis pesan. "Bu nyentul yuk..." katanya. Saya segera menanggapi pesan itu dengan mengatakan, "Siapa yang takut?" Saya awalnya diberitahu bahwa kami akan berangkat pada hari Kamis, tetapi pesan lain kemudian mengatakan bahwa kami akan berangkat pada hari Rabu. Karena saya tidak ada acara pada kedua hari tersebut, saya segera menyetujui perubahan itu. Kemudian pada hari Kamis, saya dan seorang teman lain pergi ke SPBU Shell di Sentul untuk berjanji untuk bertemu di sana sebelum pergi ke Curug Love bersama. Kemudian teman-teman saya yang lain datang. Kami memiliki waktu untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Kami langsung menuju Curug Love dari sana. Kenapa lokasi ini dipilih? Karena medannya mudah dan landai, kegiatan ini akan mudah dilakukan oleh teman-teman yang tidak biasa trekking.

Kami tiba di area parkir Curug Love setelah beberapa jam berkendara. Selama perjalanan menuju Curug Love, Anda dapat melewati banyak tempat di sekitarnya. Ada Lewi Baliung, Lewi Demang, Curug Putri Kencana, Lewi Pariuk, dan Curug Love di atasnya. Kami memutuskan untuk pergi ke Curug Love paling awal karena itu yang paling jauh, dan kami akan melihat tempat lain saat kembali. Meskipun kami tidak bermain air di Curug Love, kami sempat melihat Curug Putri Kencana untuk sementara waktu. Kami harus melewati hutan bambu dan hutan kopi untuk mencapai curug ini. Kami berjalan melalui kombinasi jalan bersemen dan jalan setapak. Karena ada beberapa area yang masih basah dan becek, cukup licin karena tampaknya hujan turun pada malam hari atau pagi hari. Saat saya pertama kali mengunjungi tempat wisata ini pada tahun 2017, kondisinya jauh berbeda. Saya pikir tempat ini sudah tidak asri lagi.


Sangat mudah untuk mencapai Curug Love. Sangat cocok untuk pemula. Ada beberapa jalan yang menanjak, tetapi tidak ekstrim dan masih dapat diakses. Sangat penting untuk tetap siap secara fisik, karena salah satu teman saya tidak dapat melanjutkan perjalanan karena detak jantungnya sudah hampir melewati batas aman. Selain itu, dia tampak pucat dan hampir pingsan. Dia akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan dia menunggu kami di sebuah saung di tepi sungai bersama teman lain.


Kami berlima tetap pergi. Kami berjalan di jalan yang cukup dekat dengan sungai. Kami juga melewati hutan kopi di mana banyak pohon sudah berbuah. Kami merasakan angin segar saat berhenti sejenak. Kami menikmati angin sejuk dan suara gemercik air dari sungai dari kejauhan. Sungguh tenang, dan rasa lelah yang kami rasakan seakan hilang. Kami segera melanjutkan perjalanan setelah berhenti beberapa saat. Sebelum memulai perjalanan trekking, kami diberitahu bahwa kami akan melewati hutan kopi dan hutan bambu. Hutan kopi sudah kita lewati, tetapi hutan bambu belum. Kami akhirnya menemukan hutan bambu yang diinginkan. Kami menemukan toko penjualan tiket di sana, dan kami akhirnya harus membayar lima ribu rupiah untuk setiap orang untuk mengunjungi curug Love. Itu benar. Kami harus membayar 25 ribu rupiah per orang untuk memasuki kawasan wisata ini. Oleh karena itu, Anda harus membayar 30 ribu rupiah untuk masuk ke wisata ini. sangat murah.

Kami memiliki kesempatan untuk mengambil beberapa foto setelah membeli tiket ke hutan bambu, yang membuat kami merasa seperti berada di hutan bambu Arashiyama di Kyoto. Setelah puas dengan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan. Saat itu, penjaga loket mengatakan bahwa jalan di sebelah kiri lebih mudah dan lebih landai daripada yang di sebelah kanan. Kami segera tiba di area curug Love setelah keluar dari hutan bambu. Perjalanan sekitar satu jam untuk mencapai Curug Love. Setelah tiba di curug, salah satu teman merasa kehausan dan segera berhenti di sebuah saung untuk memesan minuman. Kami juga memiliki waktu untuk duduk dan berbicara sejenak. Setelah teman saya minum minumannya, kami langsung menuju curug.


Kami menyaksikan sejumlah anak muda bermain air di kolam curug. Kami segera naik ke bebatuan dan mengambil foto. Melihat anak-anak bermain air, kami juga ingin bermain air. Saya langsung masuk ke kolam dan melepas sepatu kami. Ketika kaki ini menyentuh air, rasanya begitu dingin dan menyegarkan. Kami mulai masuk ke kolam secara berurutan. Kami harus berhati-hati agar tidak jatuh karena batu kolamnya licin. Tempat kami berpijak lumayan dangkal, tetapi kolam semakin dalam semakin ke arah curug. Warna air kolam menunjukkan hal yang sama. Bagian yang lebih gelap pasti lebih dalam. Sebenarnya kami ingin berendam dan bermain air di curug itu, tetapi dua teman saya masih menunggu di bawah, jadi kami putuskan untuk bermain air lagi di sungai di bawah.

Kami turun segera setelah puas bermain air di Curug Love. Di hutan bambu, kami melanjutkan perjalanan kami, yang ternyata lebih licin dan becek. Jadi kami harus berhati-hati agar tidak jatuh. Kami harus sangat berhati-hati saat berjalan menuruni bukit karena jalannya agak licin. Kami akhirnya mencapai saung di mana teman kami menunggu. Kami menghabiskan waktu itu untuk bersantai dan beristirahat. Orang-orang memesan minum, dan orang lain memesan mie instan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebelum turun ke tempat parkir, kami memiliki kesempatan untuk mengambil foto di area tersebut.


Setelah kami melakukan foto-foto, kami langsung menuju tempat parkir, tetapi malangnya salah satu teman kami terpeleset dan terjatuh. Sangat menyedihkan bahwa jalan semen di bagian itu licin. Walau tidak sampai terjatuh, saya bahkan sempat terpeleset saat naik. Meskipun teman saya beruntung tidak mengalami cedera, dia mungkin mengalami memar di bagian tubuhnya. Setelah berganti pakaian, kami segera meninggalkan area itu dan mencari tempat untuk makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 dan kami mulai lapar. Kami makan siang di sebuah restoran di kawasan Sentul, tetapi saya lupa namanya. Tempatnya bagus dengan pemandangan yang indah, tetapi menurut saya makanannya biasa saja. Kami kembali ke Jakarta segera setelah makan. Lelah?   Sudah pasti, tetapi melakukan kegiatan di luar ruangan bersama teman-teman di awal tahun tentu saja menyenangkan. Dengan optimisme menyongsong tahun 2026, kami dapat berbagi cerita, bercanda, dan tertawa bersama.





















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REST AREA PUNCAK SUMBER JAYA : Pemandangan Alam yang indah

  Area Penginapan Puncak Sumber Jaya: Pesona Alam yang Memikat di Lampung Barat Setelah memasuki wilayah Puncak Sumber Jaya di Lampung Barat...