Cari Blog Ini

Halaman

Jumat, 16 Januari 2026

Melintasi Jalan Sudirman


 Rabu, 14 Januari 2026, adalah hari ketika saya benar-benar memahami apa yang hanya saya dengar dari orang lain. Dengan kereta rel listrik, saya berangkat dari Klender ke Sudirman pagi itu. Tidak terlalu jauh, dengan hanya tiga stasiun untuk transit. Perjalanan itu seharusnya singkat dan biasa. Namun, Jakarta memiliki cara unik untuk membuat hal-hal yang sederhana terasa penuh arti. Aku langsung menyatu dengan orang-orang saat pintu kereta terbuka. Tidak ada ruang untuk privasi atau jarak. Tubuh berdempetan, tas bersenggolan, dan napas lebih dekat dari yang seharusnya. Saat itu, aku teringat celotehan teman-teman saya yang tinggal di kota ini sebelumnya. Seperti ikan teri dalam kaleng, mereka sering menggambarkan suasana kereta di jam sibuk. Saya hanya tertawa mendengarnya di masa lalu. Sekarang aku berdiri di tengah kaleng, seperti ikan lain yang terhimpit.

Sebenarnya, perasaan lain muncul di tengah ketidaknyamanan itu. Saya tidak marah atau kesal, tetapi sadar bahwa saya berada di pusat pergerakan kota. Semua orang di sekitarku memiliki tujuan, jadwal, dan kehidupan yang harus mereka selesaikan. Kereta ini bukan hanya alat transportasi; itu adalah urat nadi yang setiap hari mengalirkan ribuan mimpi dan kelelahan. Di tengah ketidaknyamanan itu, sebenarnya muncul perasaan lain. Saya tidak kesal atau marah, tetapi saya menyadari bahwa saya berada di pusat pergerakan kota. Kami semua memiliki tujuan, jadwal, dan kehidupan yang harus dipenuhi. Kereta ini bukan hanya alat transportasi; itu adalah jantung yang mengalirkan ribuan mimpi dan kelelahan setiap hari.

Setelah itu, saya keluar dari stasiun dan menggunakan internet untuk memesan ojek untuk menuju salah satu mal terkenal di daerah tersebut. Harganya hanya 10.000 rupiah. Menurut pendapat saya, jumlah itu cukup murah, karena hampir sama dengan harga ojek di Siantar. Secara statistik, perbedaan antara kota besar dan kota kecil tampaknya tidak terlalu jauh. Namun, perbedaan sosial antara keduanya jelas. Namun, jantungku hampir berhenti berdetak selama perjalanan singkat itu. Pengendara ojek online yang kutumpangi melaju di antara kendaraan lain di jalan raya yang padat. Keklakson berbunyi, mobil-mobil besar meluncur dengan kecepatan tinggi, dan motor saling menyalip tanpa ragu. Aku hanya bisa menahan napas, berpegangan erat, dan berharap kami sampai dengan selamat. Jakarta adalah kota yang bergerak cepat, sehingga kadang-kadang terasa seperti tidak cukup waktu untuk beristirahat dengan aman.

Setelah tiba di tujuan, saya dihadapkan pada pemandangan yang membuat saya terdiam. Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian yang seolah menggambarkan pekerjaan dan siapa mereka. Pria berpakaian rapi dan memakai sepatu berkilau, dan wanita berpakaian modis dan berjalan dengan percaya diri. Kemewahan tampaknya merupakan bagian alami dari kehidupan sehari-hari, dan mereka tampak sangat menyatu dengan lingkungan mereka. Di depan pintu masuk mal, saya menunggu teman saya. Tempat duduk beton yang tampak sederhana terletak di depan pintu. Namun, tempat duduk itu kokoh. Dari sana, aku melihat sekeliling. Mobil-mobil mewah datang silih berganti, berhenti sejenak, kemudian seseorang turun dengan ekspresi datar dan sikap tenang. Dalam pikiran saya, mereka pasti CEO, eksekutif, atau setidaknya orang dengan jabatan tinggi. Tidak jelas apakah itu benar atau tidak, tetapi saya merasa seperti otak saya sedang membangun cerita tentang mereka.

Sesekali, mataku bertemu pandang dengan mereka. Tidak lebih dari sekilas, tanpa senyum atau sapaan. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Mungkin ada rapat yang belum selesai, tujuan yang belum tercapai, atau hanya lelah yang disembunyikan di balik wajah. Saya merasa kagum, sejauh yang saya ketahui. Berdiri di antara kemegahan yang terasa jauh dari kehidupanku, aku kagum sekaligus kecil. Temanku tiba tidak lama kemudian. Kami tidak memasuki mal secara instan. Kami tetap duduk di tempat itu, melakukan kebiasaan kami untuk melihat orang kaya berlalu lalang. Kami sangat kagum dan tertawa dalam percakapan kami. Temanku tiba-tiba melontarkan khayalannya, yang, meskipun tampak tidak masuk akal, ternyata menyenangkan. Ia menyatakan bahwa jika seseorang yang kaya meninggalkan dompetnya, dia akan datang sebagai penyelamat dan mengembalikannya. Pada akhirnya, sang CEO akan terharu dan mempekerjakannya.

Itu membuatku tertawa. Percaya atau tidak, saya tertawa karena fakta bahwa manusia seringkali hidup dengan khayalan seperti itu. Sementara khayalan mungkin tidak realistis, masih ada kemungkinan. Aku sempat berpikir bahwa itu mungkin terjadi. Dunia itu luas, dan Jakarta memiliki banyak cerita yang tidak terduga. Tidak lama kemudian, teman kami yang lain tiba. Kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi mal. Meskipun ekspresiku tampaknya biasa, pikiranku melayang-layang. Hampir semua merek terkenal di dunia hadir di mal itu. Etalase kaca menampilkan barang-barang yang tampak bersih, sempurna, dan mahal. Saya melakukan perbandingan antara harga barang-barang di sana dan harga pakaian yang saya pakai. Itu seperti satu banding seratus. Ini adalah jarak yang tidak hanya diukur dalam angka tetapi juga dalam kenyataan.

Kami berkeliling cukup lama tanpa membeli apa pun, hanya melihat-lihat. Kami benar-benar menyadari bahwa, setidaknya pada hari itu, tempat ini bukan tempat untuk kami menghabiskan waktu. Kami adalah satu-satunya penonton yang menikmati pertunjukan mewah. Tidak ada rasa iri yang berlebihan, sungguh. lebih pada rasa bangga dan kesadaran akan posisi Anda. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di kota setelah puas berkeliling. Kami berjalan di trotoar yang, menurut saya, sangat ramah pejalan kaki. Trotoarnya bersih dan rapi, dan tidak ada pedagang kaki lima di dalamnya. Ini adalah pemandangan yang jarang saya lihat di tempat lain. Saya merasa bahwa kota ini ditujukan untuk mereka yang suka berjalan cepat dan memiliki tujuan yang jelas.

Namun, kami mulai tersesat di tengah perjalanan. Kami tidak berasal dari sini. Kami tidak tahu ke mana harus pergi. Selain itu, seseorang merasa takut untuk hanya duduk-duduk di salah satu gedung atau kafe. Kami khawatir uang kami akan terkuras hanya untuk membeli satu minuman. Ketakutan yang mungkin terdengar terlalu besar, tetapi bagi kami itu nyata. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa tujuan yang jelas. Sampai tiba-tiba hujan sangat deras. Kami berteduh di salah satu pintu masuk mal karena tidak ada pilihan lain. Kami menunggu hujan reda sambil berdiri di depan pintu itu. Namun, hujan yang seharusnya segera berhenti semakin deras, sepertinya ingin menguji kesabaran kami.

Kami akhirnya memutuskan untuk memesan Grab karena pakaian kami mulai basah dan merasa lelah. Tujuan kami satu-satunya adalah Stadion GBK. Sebuah tempat yang kami harapkan dapat memberi ruang untuk beristirahat setelah seharian bekerja di kota yang keras. Saya belajar banyak dari hari itu di Jakarta. tentang jarak, mimpi, lelah, dan kagum. Kota ini tidak selalu kejam. Meskipun kadang-kadang tanpa tujuan yang jelas, ia hanya menuntut kita untuk kuat, sadar diri, dan terus berjalan.










































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REST AREA PUNCAK SUMBER JAYA : Pemandangan Alam yang indah

  Area Penginapan Puncak Sumber Jaya: Pesona Alam yang Memikat di Lampung Barat Setelah memasuki wilayah Puncak Sumber Jaya di Lampung Barat...