-Ads Here-

Wisatawan dari dalam maupun luar negeri sering mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada tahun 1946, Jogja menjadi ibu kota Indonesia.
Karena peranannya dalam menyelamatkan Republik Indonesia selama perang, Jogja menjadi daerah istimewa.
Pusat mainan Malioboro dan bangunan candi di sekitar Jogja menarik wisatawan juga.
Di lokasi ini juga terdapat berbagai universitas yang megah di mana siswa dapat memperoleh pengetahuan.
Tradisi Jawa masih ada di Jogja.
Karena itu, kami kembali ke Yogyakarta dan kemudian pergi ke Solo beberapa hari sebelumnya.
Kami menginap di homestay di Yogyakarta dan hotel di Solo. Pada saat itu, jalan-jalan ke Yogyakarta dan Solo sangat menyenangkan.
Mungkin karena salah satu peristiwa ini kami pergi ke Yogyakarta.
Yogyakarta pernah diambil oleh Inggris dari Belanda pada tahun 1811.
Dianggap sebagai kekuatan asing yang mengancam kedaulatan Mataram, Sultan Hamengkubuwono II tidak mau tunduk kepada Inggris. Hamengkubuwono II menerima perintah dari Sir Thomas Stamford Raffles, pemimpin Inggris, untuk mengurangi kekuatan tentara mereka.
Itu malah ditolak oleh Hamengkubuwono II. Hamengkubuwono II malah memperkuat pertahanan keraton.
Ketegangan atau ketidaksepakatan akhirnya muncul. Pada 20 Juni 1812, Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan serangan militer ke Yogyakarta. atau 214 tahun sebelumnya.
Tentara Inggris kemudian menjarah barang-barang di Keraton Yogyakarta.
Keraton Yogyakarta mudah diakses. Kami memiliki kesempatan untuk melihat Keraton. Makan di sekitar lokasi.
Dalam Sejarah Indonesia Modern (1999), M.C. Ricklefs mengatakan bahwa tentara Inggris mengambil harta benda, uang, dan arsip, dan sultan dibuang ke Penang.
Sejarawan Peter Carey mengatakan bahwa tentara Inggris telah menjarah sejumlah besar uang, sekitar 800.000 dolar Singapura.
Saat ini, nilainya sekitar seratus lima puluh ribu pound sterling, atau kurang lebih 350 kilogram emas. Menurut Peter Carey dalam The Origin of the Indian War (1976)
Sekitar 1.200 tentara Eropa dan Sepoy India didukung oleh 800 tentara Legiun Mangkunegaran menyerbu dan merampas Keraton, kata Ricklefs.
Peter Carey menyatakan bahwa sultan dan pengikutnya sangat terhina setelah mereka gagal meminta perdamaian.
Perpustakaan, pusaka, dokumen penting, naskah kuno, dan uang tunai adalah beberapa harta yang berpindah tangan.
Kondisi ini menyebabkan Keraton Yogyakarta kekurangan dana.
Carut marut perampokan tersebut masih menjadi misteri lebih dari dua puluh tahun kemudian.
British Library adalah salah satu dari banyak lembaga di Inggris yang memiliki manuskrip dan koleksi Keraton Yogyakarta.
Selain itu, kami menikmati berbagai makanan di sekitar Keraton Yogyakarta.
Ada soto, mie, dll. bersamaan dengan musik bernada Jawa.
-Ads Here-