-Ads Here-

Liburan saya kali ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Selain itu, saya menemukan bahwa menikmati perjalanan adalah hasil dari pemandangan yang berbeda dari biasanya, jalanan yang ramai, waktu perjalanan yang lama, dan suasana. Menginap di rumah sahabat adalah pengalaman yang menyenangkan; nyore di atas Bukit Buring; menonton anak-anak kecil bermain bal-balan di sore hari; mengunjungi Kampung Kayutangan Heritage; dan, di akhir liburan, saya naik bus TransJatim bersama sahabat saya.
Bangkitlah, Tayo, katanya.
Saya mencoba keasyikan unik dengan tiga sahabat keluarga saya minggu lalu. Dari rumah kami, kami parkir di Terminal Hamid Rusdi, Malang, dengan sepeda motor. Kemudian kami memulai petualangan yang tak kalah menyenangkan dengan mengunjungi tempat wisata.
Kami memutuskan untuk menggunakan Bus TransJatim Koridor 1, yang merupakan sarana transportasi kota yang menghubungkan Kota Malang dan Kota Batu. Bus ini beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 21.00 WIB, dengan keberangkatan sekitar setiap 20 menit. Tarifnya sangat terjangkau, dengan hanya Rp5.000 untuk penumpang umum dan Rp2.500 untuk siswa dan mahasiswa. pilihan yang ideal bagi mereka yang ingin berlibur dengan biaya yang terjangkau tanpa perlu membawa kendaraan pribadi.
Bus yang kami tunggu tiba setelah 20 menit menunggu. Akhirnya, Tayo—seperti yang dia katakan—pergi berkeliling kota.
Kami langsung memilih kursi dekat jendela. Kami semua tahu bahwa hari itu kami tidak hanya berpindah kota ketika bus mulai bergerak meninggalkan Terminal Hamid Rusdi. Kami menikmati Malang Raya dalam berbagai cara.
Menikmati perjalanan dengan bus TransJatim sangat memuaskan. Penumpang yang berangkat bersama dari terminal Hamid Rusdi terlihat sangat akrab, seolah-olah kami adalah satu rombongan.
Saling bercanda, berfoto bersama, dan bernyanyi dengan gembira.

Bahkan tanpa ponsel
Bus pergi ke Sawojajar, Stasiun Malang, Kajoetangan Heritage, Jalan Ijen, area kampus, Dinoyo, dan akhirnya ke Terminal Landungsari. Setelah masuk ke Dau, udara mulai lebih sejuk. Pemandangan perbukitan diikuti oleh pohon yang semakin rindang sebelum bus akhirnya memasuki Kota Batu melalui Junrejo dan Oro-oro Ombo.
Bagian paling menyenangkan dari liburan kami adalah perjalanan yang berlangsung hampir dua jam. Kami memiliki waktu yang cukup untuk mengobrol, bercanda, dan menikmati pemandangan dari balik kaca bus. Di setiap halte, kami kadang-kadang melihat orang naik dan turun. Tampaknya hampir semua penumpang lebih suka menyimpan ponsel mereka di tas. Kami menggunakannya sesekali untuk mengambil foto, tetapi selebihnya kami menikmati perjalanan dengan hati, telinga, dan mata. Daripada notifikasi yang terus muncul di layar, percakapan lebih hangat.
Di Pasar Among Tani Batu, Jalan Jajan, bus akhirnya berhenti di Terminal Batu, pemberhentian terakhir. Kami melewati pasar Among Tani. Bangunan itu megah, bersih, dan sangat terorganisir. Pasar ini bukan hanya tempat untuk membeli produk lokal dan hasil bumi, tetapi juga tempat untuk menikmati makanan dengan harga yang terjangkau.
Kami tidak bermaksud mencari makanan viral sejak awal. Pilihan sederhana kami adalah seporsi nasi geprek, camilan sempol, dan es campur. Pengeluaran rata-rata kami hanya sekitar Rp20.000 per orang. Itu sudah cukup untuk membuat kami bersyukur dan senang.
Liburan tidak selalu berarti menginap di hotel berbintang, tiket wisata mahal, atau perjalanan jauh. Kebahagiaan kadang-kadang berasal dari pilihan sederhana, seperti mencoba transportasi umum, menikmati perjalanan, makan makanan yang enak, dan meluangkan waktu untuk berbicara dengan orang-orang terdekat.
Kami memperoleh lebih dari sekadar perjalanan menuju Batu dengan anggaran sekitar Rp30.000 per orang untuk makan siang dan ongkos bus pulang pergi. Walaupun kami hanya melihat apa yang ada di pasar, semua itu sudah membuat hati kami bahagia.
Sederhananya, kami bisa menikmati pemandangan Malang Raya dari balik jendela bus sambil berbicara tanpa terganggu oleh suara ponsel. Cerita dari oleh-oleh meninggalkan ingatan yang abadi.
Kami diangkut dengan bus TransJatim dari Malang ke Batu. Perjalanan sederhana ini juga mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sudah duduk manis di sebelah kita dan menemani kita sepanjang jalan.
-Ads Here-