
Setelah Raden Wijaya melarikan diri ke Kadipaten Singhasari di Madura, ia mencari perlindungan di Arya Wiraraja. Raden Wijaya mengikuti saran Wiraraja dan berpura-pura menyerah kepada Jayakatwang untuk mendapatkan kepercayaannya. Setelah meyakinkan Jayakatwang, Raden Wijaya meminta izin untuk membuat pedukuhan di daerah Alas Terik. Tempat itu kemudian disebut Majapahit. Nama Majapahit sendiri berasal dari banyaknya pohon maja di daerah itu.
Pusat Kerajaan Majapahit berada pada ketinggian sekitar 30 hingga 40 meter di atas permukaan laut di bagian hilir suatu kipas aluvial. Dataran banjir Sungai Brantas terletak di sebelah utara. Di sebelah selatan dan tenggara, sekitar 25 kilometer, terlihat rangkaian pegunungan seperti Anjasmoro, Arjuna, Penanggungan, dan Welirang dengan ketinggian 2.000 hingga 3.000 meter.
Dari tahun 1416 hingga 1434, kota Majapahit telah bergerak ke arah barat daya daripada tetap di tepi Sungai Brantas. Selain itu, penemuan bangunan dan prasasti di Trowulan, seperti prasasti Alasantan, Hamban, dan Haraha, serta angka tahun pada batu nisan, yang sebagian besar berasal dari masa sebelum Majapahit, menambahkan keyakinan ini. Ibu kota kerajaan diduga tidak pernah dipindahkan sejak Raden Wijaya naik takhta pada akhir abad ke-13 hingga akhir abad ke-15.
Sayangnya, bentuk kota dan bangunannya tidak pernah diwariskan secara lengkap. Catatan Prapanca dan temuan penggalian di daerah Trowulan adalah satu-satunya bukti yang menunjukkan bahwa pusat kerajaan itu ada. Majapahit, sebagai kerajaan besar dengan wilayah kekuasaan yang luas dan jaringan dagang yang berkembang di luar negeri, pasti memiliki pusat perkotaan yang teratur. Kondisi lahan di Trowulan sangat cocok untuk pemukiman perkotaan. Topografinya relatif datar, dengan endapan fluvio-vulkanik yang subur dan stabil, sistem drainase yang cukup baik, air tanah yang relatif dangkal dengan potensi sedang hingga besar, dan terlindung dari proses geomorfik yang kuat di selatan.
Pada dasarnya, keadaan Trowulan saat ini tidak jauh berbeda dengan yang ada pada masa Majapahit. Meskipun telah berubah karena proses geomorfik, jejak masa lalu masih dapat dilihat. Proses pengendapan dan erosi di alur sungai, serta endapan material vulkanik akibat letusan berulang Gunung Kelud, menunjukkan perubahan yang paling menonjol.
Trowulan, yang dulunya merupakan ibu kota Majapahit, memiliki banyak peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh kota. Banyak temuan arkeologis, seperti Kolam Segaran, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, dan Candi Brahu, menunjukkan bahwa Trowulan pernah menjadi pusat peradaban penting di Nusantara.

Masyarakat dan wisatawan dapat memanfaatkan Majapahit Trail sebagai sarana perjalanan sejarah yang memberikan pengalaman menyusuri jejak Majapahit secara lebih dekat dan memudahkan akses ke lokasi bersejarah tersebut.
Wisatawan dapat melihat dua belas situs penting di Trowulan yang menggambarkan kejayaan Majapahit. Ini termasuk Museum Trowulan, Situs Saluran Air Kuno, Situs Lantai Segi 6, Situs Watu Umpak, Situs Kedaton, Situs Sumur Upas, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Candi Minak Jinggo, Situs Kolam Segaran, Candi Gentong, dan Candi Brahu. Mereka semua dapat dilihat melalui Majapahit Trail.
Jika mereka ingin mengikuti tur ini, mereka dapat langsung pergi ke Museum Majapahit. Pemandu wisata akan menunggu di sebelah loket. Perjalanan dilakukan dengan mobil buggy yang dapat menampung hingga lima orang, dan setiap wisatawan dikenakan biaya Rp50.000. Biaya sudah termasuk tiket masuk ke semua lokasi yang dikunjungi, dan pemandu akan menemani Anda sepanjang perjalanan dan menceritakan sejarah Majapahit di setiap lokasi.
Jika Anda ingin mengunjungi Trowulan, Anda tidak hanya dapat melihat banyak candi dan lokasi bersejarah.
Sebuah inisiatif wisata sejarah yang digagas oleh Satrya Anthawulan dari komunitas lokal untuk memperkenalkan kembali jejak ibu kota Kerajaan Majapahit kepada masyarakat, Majapahit Trail membuat pengalaman saya jauh lebih bermakna. Wisatawan diajak mengunjungi berbagai lokasi sambil mendengarkan kisah di balik setiap peninggalan, dari sejarahnya hingga fungsinya di masa Majapahit.
Saya pikir Majapahit Trail adalah interpretasi warisan budaya, bukan sekadar wisata.
Pengunjung tidak hanya dapat melihat bangunan kuno, tetapi mereka juga dapat memahami kisah di balik bata merah, gapura, petirtaan, dan artefak yang masih ada di daerah Trowulan.
Setiap lokasi dijelaskan dengan narasi yang mudah dipahami sekaligus dikaitkan dengan kehidupan masyarakat modern, membuat perjalanan terasa lebih hidup ketika ada pemandu lokal.
Keberadaan Jalan Majapahit "Satrya Anthawulan" juga menunjukkan bahwa pemerintah dan akademisi tidak selalu harus bertanggung jawab atas pelestarian warisan budaya. Masyarakat Trowulan memainkan peran penting dalam melindungi dan menceritakan sejarah. Mereka menjadi penghubung antara kejayaan masa lalu dengan generasi sekarang melalui aktivitas pemanduan, pendidikan, dan pengenalan situs Majapahit kepada pengunjung.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal bukan hanya mendapatkan manfaat dari pariwisata, tetapi juga berperan penting dalam mempertahankan ingatan orang tentang ibu kota Kerajaan Majapahit. Saya diajak berjalan dari satu tempat ke tempat lain selama perjalanan Majapahit Trail. Di setiap pemberhentian, para pemandu memberikan penjelasan tentang tujuan bangunan pada masa Majapahit, bagaimana mereka ditemukan dan dijaga, serta berbagai cerita yang jarang ditemukan di buku pelajaran.
Saya belajar dari pengalaman tersebut bahwa Trowulan bukan hanya tempat peninggalan arkeologi; itu adalah tempat sejarah yang masih hidup karena masyarakatnya terus menjaga, menceritakan, dan memperkenalkannya kepada setiap orang yang datang.
Perjalanan melalui Jalan Majapahit membantu kita memahami bahwa warisan Majapahit tidak hanya ada di bangunan kuno yang tersebar di Trowulan, tetapi juga hidup dalam cerita dan kepedulian orang-orang yang menjaganya. Situs-situs peninggalan seperti candi, petirtaan, gapura, dan berbagai struktur arkeologi merupakan bagian dari identitas masyarakat modern, bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Kembalinya ibu kota Majapahit menjadi pengalaman wisata yang menarik dan pendidikan melalui upaya masyarakat lokal.
Jalan Majapahit menunjukkan bahwa masyarakat memainkan peran penting dalam menjaga warisan budaya tetap hidup. Ketika masyarakat berfungsi sebagai pemandu, penghubung cerita, dan penjaga nilai sejarah, masa lalu tidak hanya menjadi kenangan tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi generasi sekarang dan mendatang. Pada akhirnya, meskipun kejayaan Majapahit telah berlalu berabad-abad, semangat untuk menjaga dan menceritakannya masih ada di masyarakat Trowulan hari ini. Jangan lupa untuk melakukan perjalanan ke Majapahit Trail saat berada di Trowulan dan Mojokerto.
-Ads Here-