-Ads Here-

Menjelajah Jejak Peradaban: Dari Candi Wayang hingga Candi Kerajaan di Gajah Mungkur
Gunung Penanggungan di Mojokerto adalah salah satu tempat dengan sisa-sisa sejarah terbanyak di Jawa Timur. Di lerengnya, ada banyak situs kuno, mulai dari petirtaan, candi, gua pertapaan, hingga makam-makam yang masih dihormati oleh penduduk setempat. Pada perjalanan ini, kami melanjutkan untuk mengeksplorasi wilayah Gajah Mungkur. Dimulai dari Candi Wayang, rute melanjutkan ke Candi Kama, melewati Watu Jolang dan Candi Griya hingga tiba di Candi Kerajaan sebelum kembali ke basecamp.
Perjalanan Mulai dari Candi Wayang
Kawasan Candi Wayang adalah tempat perjalanan dimulai. Kami harus melewati hutan yang masih alami dan semak-semak, yang membuat rute kami cukup sulit. Dalam beberapa kasus, pendaki harus lebih teliti dalam menentukan arah. Dari awal, Anda memiliki pilihan untuk pergi ke Candi Gajah atau Watu Jolang. Kami memilih untuk pergi melalui Watu Jolang terlebih dahulu karena jalan menuju Candi Gajah cukup menanjak.
Pemandangan Gunung Penanggungan begitu dekat sepanjang perjalanan. Puncak Bekel dan Puncak Pawitra terlihat dari jauh, memberikan pemandangan yang menakjubkan di sela-sela hutan yang rimbun.
Kunjungan ke Candi Kama di Lereng Tebing
Tempat pertama yang dituju adalah Candi Kama. Situs ini, yang terletak di bawah tebing batu, berbeda dari candi-candi lain di daerah Penanggungan. Batu andesit digunakan untuk menyatukan batuan alami ke dalam struktur candi. Air menetes dari sela-sela batu di beberapa tempat, dan botol ditempatkan untuk menampung air. "Kama" tampaknya berarti keinginan atau hasrat. Ada banyak pendapat tentang fungsi dan sejarah situs tersebut karena namanya. Sangat sulit untuk mencapai Candi Kama. Jalurnya curam dan sempit, terutama saat turun. Para pejalan kaki dapat bersandar di akar-akar pohon secara alami. Anda harus lebih berhati-hati saat musim hujan karena jalur ini akan jauh lebih licin.
Susuri Hutan ke Makam Mbah Saleh
Perjalanan dimulai di jalur hutan yang teduh setelah meninggalkan Candi Kama. Meskipun harus terus menanjak, cuaca mendung tipis membuatnya nyaman. Kami tiba di Makam Mbah Saleh, sekitar 30 menit dari Candi Wayang. Lokasinya cukup terbuka dengan pemandangan hutan. Makam-makam tua di daerah ini menunjukkan bahwa Gunung Penanggungan bukan hanya menjadi tempat ritual Hindu-Buddha dan memiliki jejak sejarah hingga penyebaran Islam.
Reruntuhan Misterius di Tengah Hutan
Kami menemukan tumpukan batu yang mirip dengan reruntuhan candi tidak jauh dari makam. Sulit untuk membedakan karena bentuknya sudah tidak utuh. Namun, lokasi ini terasa sangat strategis sebagai tempat pemujaan di masa lalu karena berada di puncak bukit dengan pemandangan luas ke segala arah. Dari sini, Anda dapat melihat pemandangan yang sangat indah dari Gunung Bekel dan daerah sekitarnya. Tak mengherankan bahwa banyak peninggalan kuno dibangun di lokasi dengan pemandangan yang menakjubkan.
Makam Mbah Kholifah dan Candi Griya
Kami melanjutkan perjalanan ke Candi Griya. Situs ini tidak jauh dari Makam Mbah Kholifah dan memiliki area yang cukup luas. Menariknya, makam tersebut berada di ujung tebing bukit, dengan Makam Mbah Saleh di bawahnya. Di sekitar lokasi juga ada tempat beristirahat untuk peziarah. Kawasan ini sangat tenang. Hutan yang sejuk dan sedikit misterius diciptakan oleh pepohonan besar dan dedaunan yang menutupi tanah.
Satu Lokasi Panorama Favorit di Gajah Mungkur: Watu Jolang
Perjalanan menuju Watu Jolang dimulai dari Candi Griya. Hutan bambu dan beberapa tanjakan menyulitkan perjalanan ke lokasi. Ketika saya tiba di Watu Jolang, kelelahan saya langsung terbayar. Dengan berdiri di atas batu besar ini, pengunjung dapat melihat pemandangan Kota Mojokerto, Mojosari, wilayah Ngoro, dan puncak Gunung Penanggungan. Susunan batu-batu besar yang luar biasa terdiri dari Batu Jolang sendiri. Di sekitar lokasi juga ditemukan banyak batu tua, pahatan, dan benda yang terlihat seperti lumpang batu. Beberapa batu memiliki ukiran yang diduga berasal dari masa lalu, tetapi yang lain tampak seperti goresan kontemporer.
Banyak artefak batu di area ini mendukung hipotesis bahwa kawasan Gajah Mungkur adalah bagian penting dari kompleks peribadatan Gunung Penanggungan pada masa lalu.
Jejak Candi di Jalan
Jumlah batu candi yang berserakan di sepanjang jalur pendakian adalah salah satu hal yang paling menarik selama perjalanan. Hampir di setiap tikungan dan persimpangan terdapat sisa-sisa batu yang menunjukkan sisa-sisa konstruksi masa lalu. Sebagian terbuat dari batu pahatan, dan sebagian lainnya menyerupai bagian-bagian dari struktur candi yang telah runtuh. Kawasan Gunung Penanggungan tampak seperti museum terbuka besar karena fenomena ini. Setiap langkah seakan membawa kita ke potongan sejarah yang tersembunyi di balik hutan yang rimbun.
Candhi Kerajaan: Tempat yang Mengesankan di Akhir Perjalanan
Kami tiba di Candi Kerajaan menjelang sore hari. Pada perjalanan kali ini, candi ini adalah yang terakhir yang kami kunjungi. Candi Kerajaan tampak lebih megah dibandingkan dengan beberapa lokasi sebelumnya. Struktur batu yang masih tersusun dari atas ke bawah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bentuk bangunan awal. Sangat menarik bahwa orientasi candi ini terlihat menghadap ke arah timur. Ini berbeda dengan orientasi candi yang umumnya menghadap ke gunung sebagai pusat kesakralan. Ada juga jalur setapak di sekitar candi yang digunakan para peziarah. Tangga-tangga batu di sepanjang jalan menunjukkan bahwa tempat itu masih sering dikunjungi hingga saat ini.
Pulang ke Basecamp.
Setelah mengunjungi Candi Kerajaan, kami memutuskan untuk tidak pergi ke Candi Gajah atau Puncak Gajah Mungkur karena waktu sudah semakin sore. Pemandangan menarik tetap ada selama perjalanan kembali ke basecamp. Batu-batu candi masih tersebar di antara pepohonan di sepanjang rute. Perjalanan dari Candi Wayang ke basecamp memakan waktu total sekitar dua jam empat puluh menit. Pengalaman menjelajahi sisa-sisa peradaban kuno di wilayah Gajah Mungkur meninggalkan kesan yang mendalam, meskipun perjuangan yang diperlukan.
Gunung Penanggungan bukan hanya tempat pendakian. Salah satu lokasi arkeologi paling menarik di Indonesia, dengan warisan budaya, kisah, dan sejarah di setiap jalurnya.
-Ads Here-