-Ads Here-
Yogyakarta adalah lebih dari sekedar titik di peta administrasi Jawa bagian selatan. Kota ini memiliki banyak nama bagi mereka yang sempat menetap, berkeringat, atau sekadar melintasi setelah kemerdekaan. Kota Pelajar adalah nama yang paling akrab di telinga. Julukan ini sangat erat karena di Mataram ada ratusan universitas dan lembaga pendidikan tinggi yang menarik ribuan pemuda dari seluruh Indonesia.
Tapi Jogja bukan hanya tumpukan buku dan toga. Ia adalah Kota Wisata, sebuah magnet terpopuler kedua di Indonesia yang selalu menarik turis lokal dan internasional. Ia juga disebut sebagai Kota Budaya, sebuah tempat di mana seniman, budayawan, dan berbagai produk kebudayaan berkembang secara alami. Di lokasi ini, penduduk terus menghormati tradisi dengan ketabahan yang luar biasa.
Sejarah telah mencatat Jogja sebagai Kota Republik dan Kota Perjuangan. Saat bangsa dan nusa ini baru lahir dan masih tertatih-tatih menghadapi agresi militer, peranannya sebagai pendukung utama revolusi fisik sangat penting.
Dengan lapisan sejarah dan kebudayaan yang luas di daerah ini, ekosistem komunal yang unik tidak mengherankan. Salah satunya adalah munculnya deretan kafe legendaris yang masing-masing memiliki cerita sosiologisnya sendiri. Tempat-tempat ini berfungsi sebagai ruang ketiga di balik kepulan asap dan bau sangrai. Di sana, lintas generasi menghasilkan gagasan besar. Di manakah titik temu itu sekarang? Laporan mendalamnya dapat ditemukan di sini.
Angkringan Lik Man di Yogyakarta: Monumen Permulaan Revolusi Kafein
Menelusuri sejarah cairan kafein di Jogja harus dimulai dari sebuah lincak kayu di sekitar Stasiun Tugu. Angkringan Lik Man adalah pilihan pertama kami. Tempat ini adalah pusat tradisi ngopi Yogyakarta, meskipun biasanya tidak termasuk dalam kategori kedai modern bergaya urban. Sebenarnya, kebiasaan meminum teh, atau ngeteh, mendominasi kultur sosiologis warga lokal sebelum Lik Man meletakkan tendanya.
Penemu minuman ikonik Kopi Jos adalah Lik Man. Menurut penelusuran sejarah lokal, Kopi Jos adalah seduhan kopi panas yang dibuat langsung dalam cangkir seng dengan bongkahan bara arang yang menyala. Tujuannya sederhana tetapi berguna: mengurangi keasaman kopi dan menjaga panas yang luar biasa di tengah angin malam di peron kereta.
Angkringan Lik Man dianggap sebagai angkringan pertama di Yogyakarta. Sudah ada sejak dekade 1950-an. Historiografi kuno menunjukkan bahwa Prawira (juga dikenal sebagai Paira)—ayah kandung dari Lik Man—pertama kali menggerakkan gerobak dorong ini.
Bisnis Lik Man sendiri baru dimulai pada tahun 1968 setelah dagangan terhenti selama tiga tahun karena pergeseran politik nasional setelah tahun 1965. Penggunaan nama Lik Man sebagai jenama dagang utamanya mencerminkan reputasinya sebagai orang yang berani menyajikan kopi jos dengan bahan bakar arang.
Sekarang figur Lik Man diabadikan sebagai piala untuk kejuaraan tarung bebas seduh kopi tahunan yang diadakan oleh The Coffee Tale karena reputasinya yang legendaris. Mampir ke lokasi legendaris ini adalah kewajiban budaya jika Anda tertarik dengan cita rasa pahit-manis yang dihiasi dengan bau karbon tipis.

antrian kopi klotok yang selalu mengular. dok. harian jogja
Warung Kopi Klotok: Romantisme Desa Mengguncang Jagat Internet
Dalam sepuluh tahun terakhir, sebuah fenomena kuliner massal terjadi di utara, tepat di bawah bayang-bayang Gunung Merapi. Warung Kopi Klotok Yogyakarta adalah pilihan kopi terkenal berikutnya. Ini merupakan anomali sosiologis. Warung milik Bu Yani, yang terletak di pusat kota dan terletak di antara banyak kafe industrial minimalis lainnya, terus menerima ribuan pelanggan setiap hari tanpa henti.
Warung pedesaan ini menjadi destinasi wisata yang harus dikunjungi berkat pengaruh algoritme media sosial yang berhasil. Banyak pelancong dengan senang hati menunggu berjam-jam untuk sepiring pisang goreng hangat dan secangkir cairan hitam.
Romansa yang halus menyelimuti cerita di balik berdirinya warung ini. Orang-orang setempat mengatakan bahwa Warung Kopi Klotok didirikan karena suami Bu Yani merindukan penganan rumahan khas pedesaan yang mulai jarang ditemukan di sekitar rumah mereka di kota. Pada tahun 2015, Bu Yani akhirnya memutuskan untuk membuka warung kopi klotok di daerah Kaliurang, Sleman, untuk memenuhi keinginan sang suami.
Diksi "klotok" sendiri merujuk pada cara tradisional membuat kopi di Jawa Timur, di mana bubuk kopi kasar direbus langsung di atas tungku arang dengan panci hingga air mendidih dan bunyi "klotok-klotok" terdengar.
Kedai ini memiliki banyak menu ndeso, termasuk lodeh kluwih, sayur lompong, dan telur krispi, tetapi lanskap adalah nilai jual utamanya. Warung Kopi Klotok terletak di lahan seluas tiga hektare dengan pemandangan persawahan yang luas. Tidak mengherankan bahwa pengunjung dari luar kota berbondong-bondong ke tempat ini bukan hanya untuk mengonsumsi kafein, tetapi juga untuk menikmati pemandangan pedesaan yang indah.

Dongeng Kopi Jogja ada di Dusun Dalangan, Kalimati, Tirtomartani, Kalasan. Dok Dongeng Kopi
Warung Kopi Blandongan: Pusat Aksi Mahasiswa Milenial
Warung Kopi Blandongan adalah monumen hidup bagi pergerakan mahasiswa Yogyakarta awal tahun 2000-an, sedangkan Lik Man mewakili kaum buruh kota dan Kopi Klotok mewakili kelas keluarga pelancong. Kembali ke daerah Banguntapan, Bantul, warung kopi ini adalah salah satu pelopor kultur warung kopi bergaya Gresikan yang berkembang pesat di Jogja pada awal tahun 2000-an. Seorang mahasiswa asal Gresik bernama Badrun mendirikan Blandongan pertama kali pada tahun 2000. Setelah usahanya gagal, Badrun memutuskan untuk tinggal dan mukim di Sambilegi Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Warung Kopi Blandongan menggunakan gaya arsitektur rumah kuno yang bersahaja untuk mempertahankan suasana rumahan, yang sedikit mirip dengan konsep Kopi Klotok. Makanan yang disajikan sebanding dengan makanan yang biasa disajikan di meja makan rumah komunal, yang terdiri dari piring-piring seng dan toples kaca besar. Pilihan ide ini pasti bukan sebuah kebetulan.
Menurut kesaksian para pelanggan setia, Pak Badrun mendirikan Blandongan untuk menawarkan secangkir kopi berkualitas tinggi yang mirip dengan warung kopi di kampung halamannya di Gresik. Mahasiswa dengan dompet tipis suka kopi tubruk kasar dengan kadar gula tinggi.
Kedai dengan angin sepoi-sepoi khas Bantul ini menawarkan kopi hitam yang kuat dan berbagai minuman jus serta makanan berat dengan harga yang sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa. Hingga hari ini, Blandongan masih dianggap sebagai legenda, tempat ide-ide demonstrasi dan skripsi mahasiswa Jogja disusun.

Candi Prambanan, lima menit dari Dongeng Kopi. dok. 1001 malam.com
Dongeng Kopi: Ruang Kontemplasi Antara KatedralKatedral
Mereka yang menempuh pendidikan di Yogyakarta pada pertengahan tahun 2012 pasti tidak asing dengan rekomendasi coffee shop terkenal terakhir yang tercantum dalam catatan ini. Pada tahun itulah, sebuah jenama yang dikenal sebagai Dongeng Kopi pertama kali masuk ke dalam dunia kebudayaan Jogja. Dongeng Kopi memiliki ideologi yang kuat. Itu diciptakan oleh Renggo Darsono, seorang pencinta kopi yang gila kopi, gila buku, suka berkomunitas, dan aktivis mahasiswa.
Perjalanan ke kedai ini mirip dengan jalan yang diambil oleh seorang sufi. Dongeng Kopi sering berlokasi di beberapa lokasi strategis Yogyakarta. Perjalanan dimulai di Jalan Kyai Mojo di Bener, Tegalrejo (Kota Yogyakarta), dan kemudian beralih ke Jalan Wahid Hasyim, Condongcatur, Depok (Sleman), tepat di belakang kampus UPN Veteran.
Kedai itu sempat berubah ke Sariharjo di bilangan Jalan Palagan Tentara Pelajar sebelum kembali ke Umbulmartani di sekitar Jalan Kaliurang dekat kampus pusat UII. Di sinilah jangkar utama pengembaraan itu menemuinya. Dongeng Kopi berada di Dusun Dalangan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman.
Lokasi saat ini dianggap magis karena berada di pusat sabuk situs purbakala Mataram Kuno yang dikelilingi oleh Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Sambisari, Candi Plaosan, dan Candi Gebang. Dengan menggabungkan konsep bar lambat dengan taman baca Pustaka TB Alimin, tempat ini menentang gaya kafe instan yang hanya menjual foto cantik untuk konten media sosial.
Di Dalangan, Dongeng Kopi juga menjalankan lini rumah sangrai kopi (coffee roastery) mandiri yang menerima pesanan biji kopi partai besar maupun eceran, mulai dari kebutuhan horeka hingga perawetan kopi rumahan. Uniknya, hanya Ayuri Murakabi, yang bertindak sebagai kepala roaster, dan Renggo Darsono, yang bertindak sebagai juru cerita, yang secara eksklusif mengawasi operasi kedai sehari-hari ini. Anda dapat mengikuti unggahan di akun media sosial resmi mereka untuk memantau jam buka dan ketersediaan menu setiap hari.
Diakui bahwa kedai ini sangat tersegmentasi. Dongeng Kopi adalah tempat yang tidak disarankan untuk dikunjungi jika Anda menyukai keramaian, musik keras, atau percakapan kosong. Di dalam joglo tua tempat kedai ini bernaung, Anda dapat menemukan suasana yang tenang, adem, dan tenang yang jauh dari kebisingan kota.
Tempat ini sepenuhnya dirancang untuk menjadi tempat yang intim untuk berpikir, membaca, dan berbicara di bawah payung tiga pilar utama: kopi, buku, dan komunitas. Di serambi belakangnya, berbagai agenda komunal, seperti lingkaran diskusi Galang Warga, kerap diadakan, menjadikan Dongeng Kopi sebagai ruang yang sangat terbuka bagi setiap jenis kerja sama kebudayaan yang benar.
Anda pasti akan memiliki pengalaman menjajal esensi unik dari warung kopi kebudayaan saat menghabiskan sore di joglo tua ini, ditemani dengan secangkir kopi yang dibuat dengan hati-hati dan sedikit pastry. Dia menyarankan empat coffee shop terkenal yang berperan besar dalam menciptakan lingkungan sosial dan budaya Yogyakarta. Selamat datang dan tetap sehat!
-Ads Here-