Cari Blog Ini

Halaman

Minggu, 04 Januari 2026

Sate Maranggi Pareang di Purwakarta: Menjaga Tradisi untuk Cita Rasa Terbaik

 


"Dua bulan terakhir ini, antrian terus berlangsung, dan antrian juga cukup lama."

Salah satu karyawan rumah makan Sate Maranggi Pareang, Purwakarta, bernama Mang Ujang, mengucapkan kalimat ini saat membersihkan tempat duduk lesehan yang akan kami tempati. Saat kami tiba di lokasi ini, pukul 15.00. Rumah makan ini terletak di Jalan Raya Kiarapedes, Desa Karangpedas, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Jika Anda memiliki kendaraan roda empat atau lebih yang ingin menuju lokasi ini, kami dapat keluar dari Tol Sadang. Rumah makan ini tidak jauh dari Tol Sadang. Kami hanya membutuhkan sekitar satu jam jika lalu lintas lancar.

Meskipun hujan, rumah makan penuh dengan pengunjung. Kami harus rela menunggu pelanggan sebelumnya selesai makan, bahkan untuk mendapatkan tempat duduk. Kita harus berburu tempat duduk dengan penonton lain, seperti perang tiket konser. Jika ada orang yang ingin berbagi tempat, kami harus memasang "mata elang" agar tidak keduluan.

Saya sempat berpikir bahwa libur tahun baru adalah alasan utama untuk tempat ini, tetapi Mang Ujang mengatakan bahwa ini terjadi dua bulan sebelumnya. Selain itu, Mang Ujang menyatakan bahwa staf sangat lelah karena banyaknya pengunjung dan jumlah staf yang tidak seimbang.

Saya tidak tidur dari tadi pagi, maaf. Ramai-ramai ini datang. Dalam situasi sepi, ini berfungsi dengan baik, tetapi ketika suhunya lebih tinggi, itu terasa kurang. Ini karena saya belum tidur dari pagi. Ramai orang tidak berhenti mengunjungi. Mang Ujang berkata, "Kalau sepi pekerja cukup, tapi kalau ramai begini terasa kurang."

Kami langsung percaya pada pernyataan mang Ujang karena kami telah menyaksikan sendiri betapa sibuk dan riuhnya semua staf. Untuk memastikan bahwa layanan diberikan sesuai antrian, karyawan sibuk mondar-mandir membawa tumpukan kertas pesanan.

Jika diperhatikan, peran pegawai yang satu ini mirip dengan mandor pabrik yang bertanggung jawab untuk menghubungi pemilik pesanan dan membayar buruh. Dia akan memanggil nama pemesan dengan suara keras. Tim pramusaji menghidangkan makanan tak lama kemudian. Tim pramusaji tidak hanya bertanggung jawab untuk menyediakan makanan. Selain itu, mereka ditugaskan untuk mengangkat peralatan kotor dari pengunjung yang telah makan.

Kami langsung percaya pada pernyataan Mang Ujang karena kami telah menyaksikan sendiri betapa sibuk dan riuhnya semua karyawan. Karyawan sibuk mondar-mandir membawa tumpukan kertas pesanan untuk memastikan bahwa layanan diberikan sesuai antrian.

Jika diperhatikan, tanggung jawab untuk menghubungi pemilik pesanan dan membayar karyawan sebanding dengan pekerjaan mandor pabrik. Dia akan dengan keras memanggil nama pemesan. Tak lama kemudian, tim pramusaji menyediakan makanan. Kewajiban tim pramusaji tidak hanya menyediakan makanan. Mereka juga diminta untuk mengambil peralatan kotor dari orang-orang yang telah makan.

Saat saya melihat keadaan di sana, terjadi sesuatu yang aneh. Ibu paruh baya berdaster dan berkerudung keluar dari dapur tiba-tiba. Sambil bersungut-sungut dalam logat sunda tetapi dalam bahasa Indonesia, sang ibu tampak lelah.

Tidak diragukan lagi, ada tulisan di sini; ini bukan warteg. Ya, Anda harus sabar nunggu agak lama karena semua makanan dibuat secara instan. Selain itu, saat ini sangat ramai.

Saya juga tak sengaja mendengar obrolan pengunjung yang datang sebelum kami tentang lama menunggu.

"Bapak tos lami ngantosan?" Salah satu pengunjung duduk di sebelahnya dan bertanya, "(Bapak sudah lama menunggu?").


“Atos satu jam (sudah satu jam setengah),” jawab pengunjung.

“Sabar weh nya pak, abdi tos dua jam can datang keneh (sabar ya pak, saya sudah dua jam makanannya belum datang juga).”

Hal yang sama juga terjadi pada kami: makanan yang kami pesan sejak pukul 15.01 baru tersedia pada pukul 17.10. Ternyata itu benar; saya perlu menunggu sekitar dua jam.

Merusak? Itu tidak. Kami tidak marah; sebaliknya, kami sangat terkejut. Rumah makan ini terletak di tengah hutan dan memiliki banyak pelanggan.


Penasaran, kami mencoba menghubungi orang Purwakarta yang menyarankan tempat ini. Kami menemukan bahwa ini disebabkan oleh fakta bahwa rumah makan ini mempertahankan rasa asli dari sate maranggi Purwakarta. Tidak seperti restoran sate maranggi lainnya, bahkan yang besar dan terkenal, yang telah mengubah rasanya untuk memenuhi selera mayoritas pelanggan.

Itu benar jika saya dan rekan-rekan di sini ingin makan sate maranggi yang enak dan asli, itu bisa dilakukan di sini di Pareang. karena yang lain sepertinya telah diubah untuk memenuhi keinginan pelanggan.

Kami langsung memakan makanan yang telah kami tunggu selama dua jam lebih sedikit setelah disajikan, dan kami sangat terkesan. Seperti yang dikatakan rekan kami, semua makanan yang disajikan di tempat ini enak dan cocok dengan suasana pedesaan yang tenang. Kami yakin rasanya enak karena kami lapar setelah menunggu lama dan karena rasa masakan yang disajikan. Hawana—kompor tradisional yang terbuat dari kayu—menghasilkan aroma harum teh tawar gratis yang menambah rasa nikmat dan syahdu.

Kami memesan sate maranggi kambing, sate maranggi sapi, sop kambing, dan ayam bakar pada saat itu. Kami juga memesan kelapa muda utuh, kelapa muda, es durian, dan minuman es campur. Kami menemukan bahwa jumlah makanan yang kami pesan terlalu banyak, jadi kami meminta agar sisa makanan dibungkus dan dibawa pulang. Kerugian? Jika dibandingkan dengan rumah makan sate maranggi lainnya, harganya relatif murah di sini.

Kami tidak berlama-lama di sana setelah makan. Kami khawatir akan sampai ke rumah terlalu malam, jadi kami langsung pulang. Kami masih harus menempuh sekitar 50 km lagi, dan menurut Google Maps, itu akan memakan waktu sekitar dua jam.

Makanan tersebut kami sarapan keesokan harinya, dan rasanya tidak berkurang sedikit pun. Saya sampai pada kesimpulan: "Jalan-jalanlah walaupun dekat dan murah untuk menghibur diri, kalau masih tidak kita sudah jalan jalan.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Bersejarah Marunda Membantu Anda Memahami Sosok Si Pitung

  Rumah Si Pitung, yang terletak di Marunda, Jakarta Utara, adalah salah satu tempat wisata sejarah yang paling populer. Rumah panggung yang...