Pada awal tahun baru kemarin, suami saya meminta izin hingga 4 Januari 2026, dan dia mengajak kami berlibur. Namun, dia masih menunggu anandanya yang sedang liburan keliling ke rumah kakak iparnya di Bandung, Cianjur, dan terakhir Bintaro, jadi dia belum memutuskan di mana akan pergi. Ananda baru akan kembali ke rumahnya menjelang magrib pada tanggal 1 Januari 2026. Malamnya, kami bertiga berbicara tentang tempat liburan. Ananda menolak untuk pergi ke Geopark Ciletuh, meskipun saya menyarankannya.
Ananda kemudian setuju dengan saran suami untuk pergi ke Garut. Suami, yang sedang berjalan-jalan untuk mencari informasi, menjawab bahwa dia ingin pergi ke mana saja besok ketika ditanya tentang lokasinya. Untuk membuat liburannya lebih menyenangkan, saya menghubungi adik dan keponakan saya untuk mengajak mereka pergi bersama.
Perjalanan ke Garut
Kami berangkat dari Cibadak pada hari Jum'at tanggal 2 Januari 2026 pukul 03.30 pagi dan melakukan shalat Shubuh di Cianjur. Kami kemudian berangkat menuju Garut, di mana kami tiba pukul 07.00 pagi. Kami pergi dengan lancar karena masih pagi. Kami mencari tempat untuk sarapan di sebelah kiri selama perjalanan. Kami melihat pedagang bubur ayam yang ramai di jalan Otista. Lokasinya di seberang PLN Tarogong. Kami duduk di bangku yang tersedia dan memesan bubur. Harga satu porsi bubur adalah Rp 15.000,00, dan harga setengah porsi adalah Rp 10.000,00.
Goreng bawang, seledri, kacang, kecap, lada, dan kerupuk tersedia di meja selain potongan ayam kampung di atas cakwe. Plastik berukuran kecil sudah dibungkus di sekitar kerupuk. Harganya akan berbeda jika Anda ingin menggabungkannya dengan emping, hati, dan usus ayam serta emping. Telur ayam rebus juga tersedia di tempat ini; namun, sebelum memesan, harap beri tahu pedagang tentang hal itu karena telurnya diletakkan di gerobak. Buburnya enak, tetapi porsinya agak kecil dibandingkan dengan bubur di Cibadak.
Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan. Sambil mencari penginapan, kami menuju ke Cipanas. Saat mengecek aplikasi, kebanyakan penginapan sudah penuh. Kami berhenti untuk mengetahui apakah masih ada kamar kosong saat melewati hotel Agusta yang berada di pinggir jalan utama. Lokasi hotel adalah di jalan Cipanas No 77, Tarogong kaler.
Saya dan pasangan saya turun terlebih dahulu dan bertanya ke resepsionis apakah masih ada kamar berukuran keluarga untuk empat orang. Alhamdulillah, mereka menjawab. Suami saya dan saya langsung setuju setelah meninjau kamarnya. Saya segera membayar dan meminta dua tempat tidur tambahan karena kami enam orang, termasuk supir.
Kami akhirnya bisa masuk pada saat itu juga setelah menunggu beberapa saat karena kamarnya dibersihkan. Di dekat kolam renang, kamarnya luas. Akan ada pemandangan Gunung Guntur yang indah dari tepi kolam.
Suami saya mengatakan bahwa lebih baik dia istirahat dulu sebelum keluar setelah shalat Jum'at karena jam masih menunjukkan pukul 09:30. Saya menyatakan bahwa dia menyesal hanya tidur di hotel dan menyarankan untuk mengunjungi Talaga Bodas.
Suami melihat di Google Map bahwa jarak dari hotel ke Talaga Bodas sekitar 20 km dan butuh waktu lebih lama. Akhirnya, kami setuju untuk pergi ke sana.
Menikmati Keindahan Alam Talaga Bodas
Kami menggunakan Google Map untuk menemukan jalan yang ada dari hotel kami ke Wanaraja. Kami menuju jalan menuju Talaga Bodas setelah melewati pasar Wanaraja. Jalan mulai menanjak dan melewati pertanian. Pemandangannya sangat indah. Banyak bukit di kiri dan kanan yang dibuat sengkedan dan ditanami dengan berbagai jenis sayuran.
Saat kami memasuki wilayah hutan, udara terasa sejuk dan pemandangannya penuh dengan pohon-pohon yang tinggi. Jalan yang kami lalui beberapa bagian rusak karena jalan batu. Kami sempat bertanya kepada penduduk setempat yang sedang beristirahat di jalan apakah jalan menuju Talaga Bodas semuanya rusak.
Mereka mengatakan bahwa jalan di depan juga bagus. Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di gerbang tempat penjualan tiket, di mana kami masing-masing membayar Rp 12.000,00.
Ternyata tempat parkir juga penuh dengan orang. Di tempat parkir ada banyak toko makanan dan minuman, dan pengunjung dapat menggunakan toilet umum dengan membayar Rp 2.000,00.
Saat itu sekitar pukul 11.00, jarak dari tempat parkir ke Talaga Bodas sekitar 400 meter. Anda dapat pergi jalan kaki atau naik ojek yang tersedia di lokasi, yang harganya Rp 10.000,00. Kami akhirnya memilih untuk naik ojek, yang membuat kami cepat sampai di Talaga Bodas.
Tukang ojeg bertanya apakah saya ingin berhenti di pemandian air panas atau di sini. Saya memilih untuk berhenti di Talaga Bodas ini saja sebelum orang lain tiba.
Kami menuju ke tepi Talaga. Warna airnya yang pucat kehijauan disebabkan oleh kandungan mineral kawah di sana memiliki pesona khusus.
Belerang tercium memiliki bau yang samar, tetapi tidak terlalu menyengat. Banyak pengunjung datang ke pinggiran kawah untuk berjalan-jalan, berfoto, atau sekadar duduk dan menikmati perpaduan ketenangan dan pemandangan alam. Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan Talaga Bodas, kami langsung kembali ke tempat parkir. Kami segera sampai di sana karena jalannya menurun. Nanda dan keponakannya membeli jajanan terlebih dahulu sebelum meninggalkan daerah Talaga Bodas. Setelah pukul 11.30, kami bergegas ke kampung terdekat untuk melaksanakan sholat Jum'at.
Kami dapat menikmati pemandangan yang indah dari gunung, pohon di pinggir jalan yang lebat, dan langit biru yang terlihat di sela pepohonan saat kembali. Kami tidak sempat mengambil foto karena kami lebih fokus melihat jalan saat berangkat tadi.
Sampai akhirnya kami tiba di kampung terdekat, kami melihat bangunan masjid yang berada agak ke dalam. Saya turun pertama untuk menanyakan kepada ibu-ibu yang sedang memanen bawang merah.
Setelah semuanya jelas, mobil diparkir di pinggir jalan, dan pria langsung menuju masjid. Saya, adik dan keponakan pergi ke depan untuk melihat kebun di kiri dan kanan jalan.
Kami mengambil foto kebun, gunung, dan sengkedan bukit yang indah. Kami benar-benar menikmati suasana pedesaan yang indah. Kami kembali ke rumah dekat masjid dan meminta izin kepada pemilik rumah untuk duduk di teras. Sambil menunggu shalat Jum'at, kami melihat ibu-ibu memanen bawang merah di depan kami. Mereka bekerja dengan penuh semangat meskipun cuaca panas. Kami semakin menikmati ketenangan desa jauh dari hiruk pikuk kota saat angin sepoi-sepoi berhembus. Suami dan ananda keluar dari masjid tidak lama kemudian. Kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan hati yang lebih tenang dan bersyukur atas keindahan alam dan suasana pedesaan hari itu. Artikel selanjutnya akan menceritakan kisah selanjutnya.
Wasana Bahasa
Walaupun tanpa merencanakan terlebih dahulu, kami bisa menikmati liburan bersama keluarga di kota Garut dengan mengunjungi Talaga Bodas. Mengunjungi tempat ini akan memberikan bonus karena kita akan melihat pemandangan alam yang indah.
Pemandangan gunung dan kebun hijau di pedesaan memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Kami sekeluarga sangat berterima kasih atas liburan singkat ini, yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi kami. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas waktu Anda untuk membaca artikel ini. Salam hangat dan bahagia selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar