Kepergian ke Semarang tanpa mengunjungi Lawang Sewu akan dianggap tidak lengkap. Jika dibandingkan dengan makan bakwan tanpa cabe, atau minum sirup dengan es tidak ada. Jadi, setelah mengunjungi Kelenteng Sam Poo Kong, waktu masih siang. Berlari dengan kecepatan tinggi ke arah Lawang Sewu. Kami parkir mobil agak jauh dari lokasi sebelum benar-benar memasuki Lawang Sewu. Kemudian es krim dan es potong terpikat. Masak jajan di depan lawang Sewu. Menikmati es potong manis dan lembut ini.
Kemudian perhatikan jalan raya di Semarang pada hari Minggu siang; meskipun ramai, tidak ada kemacetan. Suasananya menyenangkan; jalan raya bebas macet dan pemandangan yang tidak biasa bagi warga Jabodetabek.
Beli Tiket Immersive untuk Mengunjungi Lawang Sewu
Saat Anda telah menikmati es potong, Anda harus terus antri untuk membeli tiket untuk memasuki Lawang Sewu. Kebetulan, harga tiket untuk orang dewasa adalah Rp20.000,00. Ada opsi bundling, dengan harga Rp30.000,00 untuk pengalaman yang sama per orang. per individu. Untuk saat ini, lebih baik membeli tiket satu harga. Tidak mungkin Anda akan kembali ke Semarang dalam waktu dekat, bukan? Singkatnya, saya pikir itu saat itu.
Immersive, yang ada dalam ingatan saya, akan memukau dengan sentuhan teknologi dan informatif. Ternyata ada jadwal untuk memasuki area immersive, sekitar pukul 13.30 siang.Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami ke bagian depan Lawang Sewu, area UMKM, untuk mencari makanan ringan, toilet, dan musholla sementara waktu masih cukup.
Sektor UMKM, Menjual Berbagai Camilan dan Minuman
Di dekat musholla terdapat gerai UMKM yang bertema hijau.Terorganisir dengan baik, menjual makanan ringan seperti cilok, batagor, siomay, kopi, es teh, dan es jeruk. Jam makan siang telah tiba, tetapi tidak ada menu makanan berat yang ditampilkan. Jadi kami memesan siomay, cilok, dan es teh manis. Makan langsung di area yang tersedia. Beberapa kursi dan meja memiliki penutup atas untuk mengurangi panas. Rasa makanan normal, dan harga masih masuk akal, tidak mahal.
Selain toilet, di sisi kanan terdapat area UMKM yang berderet dan rapi, mirip dengan tempat kami ngemil. Sejak dipugar, Lawang Sewu tampak lebih segar secara keseluruhan dan memiliki banyak sudut estetik, menurut pendapat saya. Mengambil gambar lawang Sewu dari dekat pepohonan membuatnya lebih indah.
Kunjungan kami kali ini terjadi saat kami mengumpulkan konten untuk afiliasi. sedang bersemangat untuk mencari uang melalui konten affiliasi. Mencari tempat yang tepat tidak terlalu sulit. Ada banyak sudut yang indah. Setidaknya, cari tempat yang agak sepi. Hari Minggu menarik banyak pengunjung.
Konsep Wahana Immersive
Setelah itu, kami masuk ke area immersive dengan mengantri, memberikan bukti tiket, dan mendengarkan pemandu saat masuk. Dilarang bagi kami peserta untuk bersandar pada kaca. Iya, kaca memang mendominasi area pintu masuk Kami kemudian diarahkan untuk mempelajari sejarah perkeretaapian Indonesia. Selanjutnya, kami menyaksikan pertunjukan melalui teknologi yang muncul baik di layar depan maupun di layar samping. Berbicara tentang sejarah perkeretaapian dari zaman penjajahan hingga modern.
Rasanya takjub melihat perkembangan perkeretaapian hingga masa kini. Banyak kemajuan yang cukup besar, terutama dalam hal teknologi. Namun, secara keseluruhan, wahana immersive ini tidak memenuhi harapan. Saya berharap ada peningkatan lagi di masa depan untuk membuatnya lebih menarik dan menghibur. Banyak bagian berbahasa Belanda belum diterjemahkan, jadi agak membingungkan.
Belanja di Laseko yang Luas dan Penuh
Teknik pemasaran Lawang Sewu sangat menarik. Kami langsung terpaku setelah keluar dari area immersive dan menuju Laseko.
Toko menjual berbagai macam oleh-oleh, termasuk makanan ringan, sambel, pakaian batik, kain tenun, topi, tas, dompet, dan pernak-pernik. Berjalan dari satu ruangan ke ruangan berikutnya hingga ruangan terakhir.
Setiap ruangan membangkitkan keinginan untuk berbelanja, tetapi saya tetap tertahan dan tertarik pada berbagai pakaian batik. Saya membeli baju batik tangan panjang yang bermodel seperti kebaya. Dengan corak hitam, warnanya biru putih.
Sama halnya dengan teman saya. Kemudian kami berusaha sekuat tenaga untuk menghindari membeli yang lain. Keluar dari wilayah Laseko dan masuk ke wilayah Lawang Sewu, lebih tepatnya wilayah museum yang terletak di seberang Laseko.
Lihat Museum Di Kawasan Laseko
Saya membaca informasi secara menyeluruh dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Memang, lebih baik menggunakan jasa tour guide saat berkunjung ke museum dengan banyak informasi. untuk mendengarkan dan interaktif menanyakan selama perjalanan. Lumayan lama untuk membacanya sendiri. Selain itu, keinginan untuk mengabadikan momen sangat tinggi. Menerima DM dan WA tentang "Emang nggak serem masuk ke Lawang Sewu" juga membuat saya terkejut. Tanya follower Instagram.
Ternyata lawang Sewu masih memiliki kesan seram dan mistis saat dijadikan lokasi film horor? Namun, dari gambarnya, gedung ini tampak lebih baru. Tidak ada kesan takut. Setelah Anda cukup puas, lanjutkan ke area bawah. Ke arah atas, lanjutkan naik tangga. Saya sangat menyukai desain kaca Eropa masa lalu. Beneran yang indah dan menarik. Namun, gambar yang diambil oleh kamera HP tidak luar biasa. Mungkin saya yang lebih suka melihat versi pertama. Area atas cukup ramai dengan pengunjung, dan saya hanya mengambil beberapa foto. Untuk menghindari bocor, jepret orang lain dengan zoom in atau sebaliknya. Setelah itu, kami memilih untuk pergi ke sisi lain, menuju area pintu keluar. Itu benar. Beberapa orang bertanya apakah benar "lawang seru" berarti "pintu seribu". Ya
Kemudian muncul pertanyaan baru: "Apakah benar ada seribu pintu?" Dia heran. Saya mengatakan bahwa informasi yang saya miliki menunjukkan bahwa tidak ada seribu pintu secara keseluruhan. hanya beberapa.
Apakah area bawah tanahnya terbuka untuk umum? Tidak ada jawaban lagi. Beberapa rekan telah mengkonfirmasi ke pihak terkait juga. Saat mengunjungi Lawang Sewu, mencoba naik kereta odong-odong adalah sesuatu yang menarik. Saya sedih harus membayar lagi. Saya memutuskan untuk tidak melakukannya dan kami lanjut jalan kaki untuk menjemput motor. Dia kemudian kembali ke rumah Kak Rere.
Kunjungan ke Lawang Sewu adalah sebuah anugerah bagi saya. Anda dapat melihat dari dekat bangunan yang sangat awet. Sangat keren jika mempertimbangkan sejarah pembangunan gedung ini. Karena beneran telah bertahan selama berabad-abad, sisi sejarahnya tetap ada, dan sebagai generasi sekarang, saya senang melihat banyak sudut estetik yang tertangkap mata. Melakukan perjalanan ke Lawang Sewu tidak hanya membantu Anda memahami sejarah. Melihat secara langsung bagaimana inovasi membuat satu tempat tetap menarik.
Fasilitasnya menjadi lebih baik. Meskipun wahana immersive di beberapa museum di Jabodetabek kurang menarik, upaya mereka patut dihargai, dan kami berharap harga tiket masuk tidak sering melonjak. Jika mungkin, mempertahankan angka saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar