-Ads Here-
Penelitian tentang makna budaya dan seni dalam Genduren Seni Gunung Sewu
Genduren Seni Gunung Sewu adalah pertemuan dan perayaan seni lokal di wilayah Gunung Sewu, yang diadakan pada:
Sabtu, 12 September 2026
Lokasi: Dusun Nongko Suwit, Gambirmanis, Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri
Acara ini mengambil semangat Genduren (tradisi berkumpul, bersyukur, dan berbagi), memindahkan fokus pertunjukan dari panggung panggung formal ke ruang hidup aslinya (ruang ekosistem). Kesenian kembali ke "Rumahnya", yang terdiri dari pekarangan rumah warga, pelataran, perempatan, goa, mata air, dan ruang komunal desa. Selain itu, penonton dapat menyaksikan beberapa pertunjukan, seperti Jathilan Krida Budaya, Genduren Encek'an, Terbang Tipung Rekso Wiguno, Srandul Sambung Srawung, dan Wayang Climen Ki Sarto, yang berlangsung dari siang hingga malam. Selain memberikan pelajaran dari setiap cerita yang ditampilkan, ini menarik perhatian penonton dan warga sekitar.
Dalam beberapa versi cerita jaranan atau jathilan tradisional, yang sebagian besar dipengaruhi oleh cerita Wengker (Ponorogo), yang berbatasan langsung dengan Wonogiri, pasukan berkuda (jathil) tidak selalu digambarkan sebagai prajurit perang elit. Di wilayah Wonogiri, tepatnya di dusun Nonko Suwit, Bapak Samingan, seorang pemain jathilan, mengatakan bahwa properti jaranan, atau kuda yang dibuat dari anyaman, adalah representasi dari pengembala kuda. Dalam cerita ini, Mondroguno, seorang pengembala kuda, bertemu dengan seekor Harimau (Singobarong), dan dia dan beberapa orang menunggang kuda menantang Harimau itu, mengalahkan Singobarong dengan pecut Samandiman. Harimau yang terluka kemudian diangkut dan dibuang ke laut Selatan. Oleh karena itu, gerakan lincah Jathilan menunjukkan keahlian gembala atau rakyat jelata dalam mengelola hewan peliharaan mereka.
Namun sangat menyedihkan,
Dalam wawancara yang diadakan pada 12 Maret 2026, mantan Kepala Desa Nongkosuwit, Bapak Sukarhadi Suwito, menyatakan, "Belum ada regenerasi pemain Jathilan di desa Nongkosuwit, sehingga untuk saat ini pemain Jathilan di dominasi oleh orang-orang tua yang masih peduli dengan seni Jathilan ini."
Bapak Sukarhadi mengatakan bahwa remaja saat ini lebih suka mencari uang atau uang daripada bermain Jathilan. Jadi regenerasi pemain muda Jathilan sangat sulit. Selanjutnya, dia mengatakan bahwa dia telah mengubah seni Jathilan ini secara pribadi. Misalnya, tidak ada ungkapan bahwa pengembala harus mengenakan topeng, hanya untuk menarik perhatian penonton.

Bapak Narto dan Bapak Triyono, warga desa Nongko Suwit yang menyaksikan langsung acara tersebut, mengatakan mereka senang dan bangga karena Seni Jathilan terus dipertahankan dan diadakan setiap tahun. Mereka juga mengatakan bahwa desa Nongko Suwit masih memiliki beberapa seni tradisional lainnya, seperti Wayang Kulit, Ketoprak, dan Rebana.
Metode ini membuat Genduren Seni Gunung Sewu menjadi lebih dari sekadar festival pertunjukan. Ini adalah upaya untuk mempertahankan ingatan kolektif, mempererat hubungan warga, dan menghilangkan kesan dari lingkungan kebudayaan yang ada di sekitar Gunung Sewu.
-Ads Here-