Cari Blog Ini

Halaman

Sabtu, 07 Februari 2026

Efektifkah memantau jarak skywalk Stasiun Cisauk?

 


Sebagai pengguna transportasi publik, khususnya kereta Commuter Line (baca: KRL), saya selalu percaya bahwa naik KRL itu capek bukan hanya di dalam kereta tetapi juga setelah turun. Namun, ini tidak berkaitan dengan mengeluh tentang kesulitan hidup. Dalam hal ini, layanan publik harus terus diperbaiki. Menurut pendapat saya, tidak ada pekerjaan manusia yang sempurna. Namun, orang dapat berkembang dengan memperhatikan setiap evaluasi yang mereka lakukan atas pekerjaan mereka. Kembali soal capeknya tadi. Selain itu, sejak dua kali saya keluar dan masuk Stasiun Cisauk, saya merasa keyakinan saya semakin kuat. Stasiun ini terletak di jalur KRL Rangkas Bitung, yang menghubungkan Stasiun Serpong ke Stasiun Cicayur.

Serasa Sedang Lomba Jalan Santai

Ketika saya turun di Stasiun Cisauk kemarin, salah satu hal yang saya kagumi adalah bagaimana stasiunnya terlihat kontemporer, bersih, dan futuristik. Tempatnya bersih dan teratur. Sebagai informasi, Stasiun Cisauk telah diintegrasikan dengan KRL Commuter Line (rute Tanah Abang-Rangkasbitung) melalui konsep Transit Oriented Development (TOD) dengan antar moda. Sebuah skywalk tertutup sepanjang 350 meter menghubungkan moda KRL dengan Terminal Intermoda BSD City, bus BSD Link, angkutan umum, dan Pasar Modern Intermoda. Sebaliknya, integrasi ini memungkinkan perpindahan moda tanpa meninggalkan area stasiun. Sebaliknya, skywalk berdinding kaca memiliki efek tambahan pada beberapa penumpang atau pengguna jasa.





Saya membayangkan sebuah pintu keluar yang berhadapan dengan pemukiman penduduk setelah menyusuri lorong skywalk sejauh lebih kurang seratus meter. Ternyata perkiraan saya salah. Saya masih harus melanjutkan perjalanan di lorong itu pada tikungan berikutnya. Panjangnya hampir sama. Di sisi kanan saya, saya bertemu dengan para pedagang mikro kali ini. Rasanya seperti mengikuti lomba jalan santai dengan berbagai jenis makanan. Karena ada lintasan yang hampir sama di tikungan berikutnya, perjalanan saya belum selesai. Sementara nafas saya mulai terengah-engah, pakaian saya mulai basah. Tidak hanya panjangnya "lumayan", tetapi juga "kok belum nyampe juga?" Lintasan pejalan kaki dari Stasiun Cisauk ke Terminal BSD terkenal panjangnya 450 meter.

Saya menyusuri jalur yang seolah-olah ingin menguji kesabaran dan stamina saya dari peron menuju titik keluar atau area lanjutan transportasi. Jalan terus, belok, naik, turun, dan kemudian kembali jalan. Saya mulai mengalami sakit di pergelangan kaki saya. Pegal ringan dan dengusan napas tambahan mungkin merupakan gejala kelelahan bagi pengguna yang masih muda dan sehat. Tapi jalur ini bisa terasa seperti misi bertahan hidup level menengah bagi orang tua, lansia, ibu hamil, difabel, atau penumpang dengan anak kecil. Pertanyaan: "Stasiun apa wisata trekking?" muncul di titik tertentu. Jika itu adalah wisata, apa yang ingin dilihat?



Kelelahan yang Terlalu Lama

Ketidakefektifannya adalah masalah utama lintasan skywalk ini. Sepertinya jalur yang ada memutar dan tidak langsung. Pengguna harus mengikuti rute yang sudah ditentukan daripada keluar dan langsung tiba di tujuan.
Itu benar jika tujuannya adalah integrasi antarmoda. Namun, integrasi yang efektif seharusnya dapat mempersingkat jarak, bukan malah menambah langkah demi langkah dalam waktu yang lama.

Saya berterima kasih atas fasilitas lift dan eskalator yang tersedia. Namun, dalam pengalaman kemarin, eskalator di jalur turun ke peron menuju Tanah Abang gagal berfungsi. Meskipun demikian, ada beberapa orang tua yang harus turun dengan sangat perlahan-lahan melalui eskalator atau tangga manual yang tidak berfungsi. Namun, harus diakui bahwa lift dan eskalator hanya membantu mobilitas vertikal, bukan horizontal. Tidak ada gunanya menggunakan lift yang canggih jika harus berjalan ratusan meter. Terutama untuk orang yang menggunakan kursi roda atau orang tua yang berjalan pelan.

Tidak ada tempat duduk atau istirahat yang cukup. Seolah-olah jalur panjang ini dimaksudkan untuk semua orang yang kuat yang terus berjalan. Saya kira ini adalah catatan pentingnya bagi sebuah kota yang mungkin dirancang untuk menjadi kota yang ramah. Kota yang ramah itu tidak memaksa penduduknya untuk menjadi kuat saja; sebaliknya, dia mampu memberi ruang bagi mereka yang lelah. Itu benar—warganya tidak akan lelah. Bangku di peron atau ruang tunggu sangat penting. Duduk sebentar, tarik napas, lalu tarik napas lagi. Sederhana, tetapi pengunjung akan merasa dihargai.

Menit Berharga yang Terbuang

Jangan abaikan waktu juga. Jalur yang panjang otomatis akan memakan waktu. Kondisi ini terutama akan dialami oleh pekerja yang bekerja lebih cepat daripada jam masuk kantor. Agar anak saya tidak terlambat masuk kantor, dia harus mencari kost di sekitarnya. Kadang-kadang, keterlambatan tidak disebabkan oleh kereta yang terlambat; sebaliknya, keluar dari stasiun memerlukan waktu yang cukup lama. Ini paradoks karena transportasi publik sangat bergantung pada kecepatan waktu. Berjalan jauh di tengah jam sibuk, seperti pagi atau sore hari, sambil membawa tas atau barang, jelas bukan pengalaman yang nyaman. lebih-lebih saat hujan atau panas terik.


Pengharapan Orang-Orang dan Penguna Jasa

Sebagai warga dan pengguna, kontribusi ini menimbulkan harapan besar untuk perbaikan fasilitas yang sudah dibangun dengan biaya besar ini. Mungkin dengan menambah bangku istirahat, memperpendek rute tertentu, membuka akses yang lebih langsung, atau menyediakan rute alternatif untuk orang tua dan difabel. Sangat penting untuk mempermudah masyarakat, jadi tidak perlu mewah. Stasiun terdiri dari pengalaman dan bukan hanya bangunan. Dan hal-hal sederhana yang dialami pengguna menentukan pengalaman mereka. Misalnya, seberapa jauh dia harus berjalan, seberapa capek kakinya, dan seberapa dihargai kondisi tubuhnya adalah pengalaman itu. Stasiun yang baik tidak hanya membuat kita bangga memotretnya, tetapi juga membuat kita pulang tanpa harus memijat pergelangan kaki atau betis kita di tukang urut.

Sebagai stasiun modern, Stasiun Cisauk telah maju jauh. Tinggal satu langkah lagi, memastikan bahwa setiap langkah yang dilakukan penggunanya tidak terlalu berat.


































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Goa Gudawang Cigudeg: Saat Sejarah, Misteri, dan Alam Bertemu

  Tiga Goa di Gudawang: Keindahan Sunyi, Mitos, dan Keindahan Alam Tujuan kami pagi itu sangat mudah. Melakukan perjalanan santai dan menghi...